PERKEMBANGAN REMAJA DAN PERANANNYA DALAM MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan adalah perubahan kearah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Perkembangan memiliki sifat holistik ( menyeluruh atau kompleks ) yaitu : terdiri dari berbagai aspek baik fisik ataupun psikis, terjadi dalam beberapa tahap ( saling berkesinambungan ), ada variasi individu dan memiliki prinsip keserasian dan keseimbangan.
Perkembangan Individu memiliki beberapa prinsip-prinsip yaitu : Never ending process ( perkembangan tidak akan pernah berhenti ), Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi ( aspek emosional, aspek disiplin, aspek agama dan aspek sosial ), Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu ( karena perkembangan individu dapat terjadi perubahan perilaku yang dapat dipertahankan atau bahkan ditinggalkan ).
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti dan setiap perkembangan memiliki tahapan-tahapan yaitu : tahap dikembangkan, tahap kandungan, tahap anak, tahap remaja, tahap dewasa, dan tahap lansia, ada juga yang menggunakan patokan umur yang dapat pula digolongkan dalam masa intraterin, masa bayi, masa anak sekolah, masa remaja dan masa adonelen yang lebih lanjut akan disebut dengan periode perkembangan.
. Dalam hal ini saya merasa tertarik untuk mengetahui perkembangan remaja serta peranan remaja dalam masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa definisi masa remaja ?
2. Kapan masa perkembangan remaja ?
3. Apa faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja ?
4. Tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan oleh remaja ?

5. Apa peranan remaja dalam masyarakat ?
6. Permasalahan apa saja yang sering dilakukan oleh remaja ?
7. Bagaimana perkembangan kesadaran beragama seorang remaja ?

C. Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui definisi remaja.
2. Untuk mengetahui kapan masa perkembangan remaja.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja.
4. Untuk mengetahui tugas perkembangan remaja
5. Untuk mengetahui peranan remaja dalam masyarakat.
6. Untuk mengetahui permasalahan yang sering dialami oleh remaja.
7. Untuk mengetahui perkembangan kesadaran beragama seorang remaja

D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi remaja yang sebenarnya.
2. Mengetahui kapan masa perkembangan remaja.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja.
4. Mengetahui tugas perkembangan remaja
5. Mengetahui peranan remaja dalam masyarakat.
6. Mengetahui permasalahan yang dialami remaja.
7. Mengetahui perkembangan kesadaran beragama seorang remaja

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Remaja Menurut Para Ahli
1. Menurut Stanley Hall ( Bapak Psikologi Remaja )
Masa remaja adalah masa kelahiran baru yang ditandai dengan gejala yang menonjol, yaitu: perubahan pada seluruh kepribadian dengan cepat, perubahan pada segi biologis, mulai berfungsinya kelenjar kelamin dan sikap sosial yang eksplosif dan bergelora.

2. Menurut Darajat Zakiyah
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).

3. Menurut Hurlock (1999)
Dalam bukunya menuliskan bahwa istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.

4. Menurut Jersild (dalam Hidayat, 1977)
Dalam bukunya “The Psychology of Adolescence” menyatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana pribadi manusia berubah dari kanak-kanak menuju ke arah pribadi orang dewasa.

5. Menurut Stone (dalam Hidayat, 1977)
Masa remaja adalah masa yang ditandai oleh adanya badai dan tekanan, yang dimulai adanya perubahan-perubahan biologis.

6. Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1999)
Masa remaja sebagai usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.

B. Masa Perkembangan Remaja
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun.
a. Masa Pra Pubertas ( 12 – 13 tahun ): peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Cirinya:
1) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.
2) Anak mulai bersikap kritis.
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat juga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik ( karena merasa tahu segalanya ), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, cenderung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu melaksanakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu adalah masalah yang sangat berat. Orang tua tidak boleh berpikir, “Ya ampun… itu kan hal kecil. Masa kamu tidak bisa menyelesaikannya ? Bodoh sekali kamu !”, dan sebagainya. Tetapi perhatian seolah-olah orang tua mengerti bahwa masalah itu berat sekali bagi remajanya, akan terekam dalam otak remaja itu bahwa orang tuanya adalah jalan keluar yang terbaik baginya. Ini akan mempermudah orang tua untuk mengarahkan perkembangan psikis anaknya.

b. Masa Pubertas ( 14-16 tahun ) : masa remaja awal.
Cirinya:
1) Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya.
2) Memperhatikan penampilan.
3) Sikapnya tidak menentu atau plin-plan.
4) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri atau gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sulit diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut, kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

c. Masa Akhir Pubertas ( 17-18 tahun ) :
peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen.
Cirinya:
1) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.

2. Periode Remaja Adolesen ( 19-21 tahun ) : Merupakan masa akhir remaja.
Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
a. Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
b. Mulai menyadari akan realitas
c. Sikapnya mulai jelas tentang hidup
d. Mulai nampak bakat dan minatnya
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.
C. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
1. Keluarga
a. Fungsi keluarga
Menurut Samsyu Yusuf ( 2004 : 42 ), Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal dan eksternal, maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya, tetapi ada keluarga yang mengalami keretakan.
Keluarga yang fungsional ( normal ) yaitu keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah dijelaskan. Disamping itu, keluarga yan fungsional ditandai oleh karakteristik, yaitu :
1) Saling memperhatikan dan mencintai.
2) Bersikap terbuka dan jujur.
3) Orangtua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya, dan menghargai pendapatnya.
4) Ada “ sharing “ masalah atau pendapat diantara anggota keluarga.
5) Mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya.
6) Saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi.
7) Orangtua melindungi anak.

b. Pola Hubungan Orangtua dengan Anak
Menurut Samsyu Yusuf ( 2004 : 50 ), meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen – elemen struktur kepribadian remaja, yaitu :
Remaja memiliki “ego strength“ ( kematangan emosional dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan – harapan masyarakat )
1) Remaja memiliki “ superego “ ( berperilaku efektif yang dibimbing oleh kata hatinya ).
2) Remaja yang “ friendliness “ dan “ spontanetty “ berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.
3) Remaja yang bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas, berkaitan dengan keluarga yang otoriter.

c. Kelas Sosial dan Status Ekonomi
Menurut Pikunas ( 1976 : 72 ), mengemukakan kaitan antara kelas social dengan cara orangtua dalam mengatur anak, yaitu :
1) Kelas Bawah ( lower class ): cenderung lebih keras dalam “ toilet training” dan lebih sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.
2) Kelas Menengah ( middle class ): cenderung lebih memberikan pengawasan, dan perhatiannya sebagai orangtua.
3) Kelas Atas ( upper class ): cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan – kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya.

2. Lingkungan Sekolah
Menurut Harlock ( 1986 : 322 ), bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anakbaik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berpikir. Beberapa alasannya adalah :
a. Para siswa harus hadir di sekolah.
b. Sekolah memberikan pengaruh pada anak usia dini, seiring perkembanagannya.
c. Anak – anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah.
d. Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa yang meraih sukses
e. Sekolah memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya, dan kemampuannya secara realistik.

3. Kelompok Teman Sebaya
Aspek kepribadiaan remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya, adalah :
a. Social Cognition : kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuan ini berpengaruh kuat terhadap minatnya untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebayanya ( Sigelman & Shaffer, 1995: 372,376 ).
b. Konformitas : motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai – nilai, kebiasaan, kegemaran ( hobi ), atau budaya teman sebayanya. Konformitas kepada norma kelompok terjadi, apabila :
1) Norma tersebut secara jelas dinyatakan.
2) Individu berada di bawah pengawasan kelompok.
3) Kelompok memiliki fungsi yang kuat.
4) Kelompok memiliki sifat kohesif yang tinggi.
5) Kecil sekali dukungan terhadap penyimpangan dari norma.

D. Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Syamsu Yusuf ( 2004 : 72 ), tugas perkembangan remaja, yaitu :
1. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figure yang mempunyai otoritas.
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual atau kelompok.
4. Menemukan manusia model yang disajikan identitasnya.
5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
6. Memperkuat self – control ( kemampuan mengendalikan diri ) atas dasar skala nilai, prisip – prinsip atau falsafah hidup ( Weltanschauung ).

Dalam pembahasan tugas perkembangan remaja, Pikunas ( 1976 ), mengklasifikasikan ke dalam sembilan kategori, yaitu :
1. Kematangan emosional
2. Pemantapan minat – minat hetero seksual
3. Kematangan sosial
4. Emansipasi dari kontrol keluarga
5. Kematangan intelektual
6. Memilih pekerjaan
7. Menggunakan waktu senggang secara tepat
8. Memiliki filsafat hidup
9. Identifikasi diri

E. Peranan Remaja Dalam Masyarakat
Pemuda atau remaja merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekuasaan.
Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.
Peranan lebih lanjut tentang peran pemuda dalam masyarakat adalah sebagai penerus generasi golongan tua yang berperan penting di dalam lingkungan masyarakat. Berorganisasi dalam berbagai rangkaian kegiatan sosialisasi, maupun yang lainnya. Para generasi penerus ini juga berperan penting dalam kondisi demokrasi dalam masyarakat sekitar. Contoh, dalam rangka pemilihan ketua RT atau ketua RW. Seluruh masyarakat sekitar ikut berpartisipasi untuk menyalurkan suaranya, termasuk para generasi penerus tersebut. Dan selanjutnya, bisa bersosialisasi dan bergabung dengan kelompok golongan tua, dalam hal bermasyarakat, maupun berorganisasi. Mereka juga bisa mengadakan sosialisasi atar sesamanya, seperti contoh berorganisasi membentuk grup olahraga, seperti basket. Dan secara otomatis, mereka akan berbagi, dan bersosialisasi antar sesamanya. Dan oleh sebab itu, akan terjadi hubungan kontak yang baik antar sesama, mengenal sesama, dan saling membantu jika ada yang mengalami kesulitan dalam segala hal.
F. Permasalahan Remaja
1. Masalah Pribadi
a. Kurang motivasi untuk mempelajari agama
b. Kurang memahami agama sebagai pedoman hidup
c. Kurang menyadari bahwa setiap perbuatan manusia diawasi tuhan
d. Masih merasa malas melaksanakan salat
2. Masalah Sosial
a. Kurang menyenangi kritikan orang lain
b. Kurang memahami tatakrama ( etika ) pergaulan
c. Kurang berminat untuk berpartisipasi dalam kegiatan social
d. Merasa malu berteman dengan lawan jenis
3. Masalah Belajar
a. Kurang memiliki kebiasaan belajar yang baik
b. Kurang memahami cara belajar yang efektif
c. Kurang memahami cara mengatasi kesulitan belajar
d. Kurang memahami cara membaca buku yang efektif
4. Masalah Karir
a. Kurang mengetahui cara memilih proram studi
b. Kurang mempunyai motivasi untuk mencari informasi tentang karir
c. Masih bingung memilih pekerjaan
d. Merasa cemas untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus

G. Perkembangan Kesadaran Beragama Remaja
Menurut syamsu yusuf ( 2004 ) , Apakah remaja memikirkan tuhan sama dengan cara berpikir anak ? Apakah perkembangan intelektual mempengaruhi perkembangannya terhadap Tuhan dan agama ? Karena pandangan terhadap tuhan atau agama sangat dipengaruhi oleh perkembangan berfikir, maka pemikiran remaja tentang tuhan berbeda dengan pemikiran anak
Kemampuan berpikir abstrak remaja memungkinkannya untuk dapat mentransformasikan keyakinan beragamanya. Dia dapat mengapresiasi kualitas keabstrakan tuhan sebagai yang maha adil, maha kasih saying. Berkembangnya kesadaran atau keyakinan beragama, seiring dengan mulainya remaja menanyakan atau mempermasalahkan sumber – sumber otoritas dalam kehidupan, seperti pertanyaan “ Apakah Tuhan Maha Kuasa, mengapa masih terjadi penderitaan dan kejahatan di dunia ini ? “
Untuk memperoleh kejelasan tentang kesadaran beragama remaja ini, dapat disimak dalam uraian berikut.
1. Masa Remaja Awal ( sekitar usia 13 – 16 tahun )
Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada tuhan kadang – kadang sangat kuat, akan tetapi kadang – kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang – kadang rajin dan kadang – kadang malas. Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic ( was – was ) sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual ( seperti ibadah salat ) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
Kegoncangan dalam keagamaan ini mungin muncul, karena disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya organ seks, yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, di sisi lain ia tahu bahwa perbuatannya dilarang oleh agama. Kondisi ini menimbulkan konflik pada diri remaja. Faktor internal lainnya adalah bersifat psikologis, yaitu sikap independen, keinginan untuk bebas, tidak mau terikat oleh norma – norma keluarga ( orang tua ). Apabila orangtua atau guru – guru kurang memahami dan mendekatinya secara baik, bahkan dengan sikap keras, maka sikap itu akan muncul dalam bentuk tigkah laku negative ( negatifisme ), seperti membandel, oposisi, menentang atau menyendiri, dan acuh tak acuh.
Sedangkan berkaitan dengan perkembangan budaya dalam masyarakat, yang tidak jarang bertentangan dengan nilai – nilai agama, seperti beredarnya film – film dan foto – foto yang tidak senonoh ( porno ), minuman keras, ganja atau obat – obatan terlarang. Hal ini semua mempunyai daya tarik yang sangat kuat bagi remaja untuk mencobanya.
Di samping itu, mungkin remaja melihat bahwa tidak sedikit orang dewasa atau masyarakat sekitarnya yang gaya hidupnya kurang mempedulikan agama, bersifat munafik, tidak jujur dan perilaku amoral lainnya.
Apabila remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orangtua yang kurang memberikan kasih sayang dan berteman dengan kelompok sebaya yang kurang menghargau nilai – nilai agama, maka kondisi di atas akan menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila, seperti pergaulan bebas ( free sex ), minum – minuman keras, mengisap ganja dan menjadi trouble maker ( pengganggu ketertiban atau pembuat keonaran ) dalam masyarakat.

2. Masa Remaja Akhir ( 17 – 21 tahun )
Secara psikologis, masa ini merupakan permulaan masa dewasa, emosinya mulai stabil dan pemikirannya mulai matang ( kritis ). Dalam kehidupan beragama, remaja sudah mulai melibatkan diri ke dalam kegiatan – kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya di antaranya ada yang shalih dan ada yang tidak shalih. Pengertian ini memungkinkan dia untuk tidak terpengaruh oleh orang – orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama atau perilakunya bertentangan dengan nilai agama.
Untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana kesadaran beragama remaja, Nancy J. Cobb ( 1992 : 251 ) mengemukakan hasil penelitian di Amerika Serikat terhadap para siswa SLTA ( yang dikutip hanya tahun 1984 dan 1985 ) sebagai berikut.

Kesadaran Beragama 1984 1985
A. Frekuensi beribadah
1. Setiap Minggu
2. 1 – 2 kali / minggu
3. Kadang – kadang
4. Tidak pernah
B. Pentingnya Beragama
1. Sangat Penting
2. Penting
3. Kurang Penting
4. Tidak Penting
37,7
16,2
35,8
10,2

29,7
32,6
28,7
11,0

35.3
16,6
37,0
11,1

27,3
32,4
26,6
12,7
Tabel di atas menunjukkan bahwa persentase remaja USA ( minimal sampai tahun 1985 ) yang menganggap pentingnya beragama masih cukup, yaitu sekitar 59,7 % ( 60 % ).
Yang menjadi masalah bagi kita adalah bagaimana kesadaran beragama remaja Indonesia ? untuk sedikit menguak tentang persoalan ini, saya telah melakukan penelitian tentang tugas – tugas perkembangan terhadap para siswa SLTA ( SMK ) di Jawa Barat yang Respondennya berjumlah 652 orang pada tahun 1996 / 1997. Salah satu tugas perkembangan yang diukurnya adalah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang hasilnya adalah sebagai berikut
a. Mengembangkan Pemahaman Agama. Hasil penelitian menunjukan bahwa hamper setengahnya para siswa : (1) merasa malas untuk mendengarkan ceramah – ceramah keagamaan. (2) kurang berminat untuk mengikuti kegiatan keagamaan, (3) kurang senang membaca buku – buku agama, dan (4) kurang tertarik untuk mengikuti diskusi keagamaan. Temuan ini menggambarkan bahwa belum semua siswa menaruh minat dan perhatian untuk memperluas wawasan atau pemahaman keagamaan. Fenomena ini menunjukkan pula tentang lemahnya komitmen mereka untuk menempatkan upaya pemahaman keagamaan sebagai suatu hal yang penting dalam kehidupannya.
b. Meyakini agama sebagai pedoman hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hamper semua siswa meyakini agama sebagai pedoman hidup yang akan membawa kepada kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak
c. Meyakini bahwa setiap perbuatan manusia tidak lepas dari pengawasan tuhan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar siswa meyakini akan pengawasan tuhan terhadap semua perilaku dirinya. kesadaran ini merupakan sikap rohaniah yang memungkinkan seseorang mampu mengendalikan dirinya. kesadaran ini merupakan sikap rohaniah yang memungkinkan seseorang mampu mengendalikan dirinya dari perbuatan yang tidak baik. Dalam kaidah agama, kesadaran akan pengawasan tuhan itu di sebut ihsan, cenderung akan mampu mengontrol tingkah lakunya, sehingga dia akan terhindar dari perbuatan nista. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sikap ihsan cenderung akan bersifat impulsive atau berperilaku atas dasar hawa nafsunya. Yang perlu mendapat perhatian dalam aspek perkembangan ini adalah bahwa ternyata masih ada sebagian siswa yang belum memiliki keyakinan bahwa setiap perbuatan manusia itu diawasi oleh tuhan. Fenomena ini menuntut suatu pemberian layanan khusus bagi para siswa tersebut agar mereka dapat mengembangkan keyakinannya seperti yang diharapkan
d. Meyakini kehidupan akhirat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hamper semua siswa meyakini akan adanya hari akhirat. Mereka meyakini bahwa amal perbuatannya mendapat pembalasan dari tuhan. Di sisi lain ( meskipun jumlahnya sedikit ), masih ada siswa yang belum meyakini adanya hari akhir tersebut. Tampaknya, keyakinan akan adanya pembalasan amal di akhirat, berkaitan erat dengan keyakinan akan pengawasan tuhan terhadap semua perbuatan manusia di dunia ini. Manusia, dalam hal ini siswa SMK yang meyakini bahwa semua perbuatan di awasi tuhan, mereka cenderung berhati – hati dalam berperilaku karena merasa takut akan pembalasan dari tuhan di akhirat kelak. Tetapi bagi mereka yang tidak meyakini adanya pembalasan perbuatan tersebut cenderung kurang memperhatikan norma – norma agama dalam berperilaku

BAB III
PEMBAHASAN TEORI

A. Pengertian Remaja
Menurut saya, remaja adalah tahapan bagi seseorang yang akan di alami oleh setiap manusia, yang akan mengalami perubahan drastis dari masa kanak-kanak. Perubahan itu meliputi perubahan fisik, perubahan mental, maupun perubahan psikis.
Masa perubahan remaja perempuan lebih cepat dari pada laki – laki. Pada umumnya perubahan remaja perempuan mengalami menstruasi, sedangkan pada laki – laki mengalami mimpi basah. Biasanya remaja akan mengalami kebingungan dalam menerima semua perubahan yang terjadi pada diri mereka.. Orangtua harus memberikan pengertian kepada remaja yang mengalami perubahan tersebut, karena semua itu tahapan yang harus dilewati oleh seorang remaja perempuan ataupun laki – laki.

B. Masa Perkembangan Remaja
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun.
a. Masa Pra Pubertas ( 12 – 13 tahun ): peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Ciri – cirinya :
1) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.
2) Anak mulai bersikap kritis.
b. Masa Pubertas ( 14-16 tahun ) : masa remaja awal.
Ciri – cirinya :
Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya.
1) Memperhatikan penampilan.
2) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
c. Masa Akhir Pubertas ( 17-18 tahun ) :
Ciri – cirinya :
1) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
2. Periode Remaja Adolesen ( 19-21 tahun ) : Merupakan masa akhir remaja.
Ciri – cirinya :
a. Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis.
b. Mulai menyadari akan realitas.

C. Tugas Perkembangan Remaja
1. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif.
2. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua.
3. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin.
4. Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri.
5. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma.
D. Peranan Remaja Dalam Masyarakat
Remaja merupakan sosok yang diharapkan akan meneruskan generasi selanjutnya. Ibaratnya mereka adalah daun – daun hijau yang tumbuh dalam pohon yang menggantikan daun kering yang jatuh ke tanah. Mereka sangat berperan dalam kemajuan suatu bangsa. Sampai presiden pertama kita Ir. Soekarno saja berkata “ Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia “.
Dari kata – kata tersebut sudah membuktikan bahwa peranan remaja sangat berperan dalam kemajuan suatu bangsa. Tetapi, saat ini mereka lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian remaja sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini.
Peranan remaja dalam sosialisi bermasyrakat sungguh menurun dratis, dulu bisanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah remaja sekitar. Remaja sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu.
Kini remaja di negara kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, lebih suka aktif di mailing list, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara.
Seharusnya kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran remaja sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.
Dengan penuh harapan semoga pemuda-pemudi dan generasi penerus harapan bangsa dapat menjelma menjadi sukarno-sukarno masa depan dengan samangat juang yang tinggi. Sebagai motor perjuangan bangsa.

E. Permasalahan Perkembangan Remaja
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian tersebut diatas, dengan ini saya kemukakan beberapa hal kesimpulan, sebagai berikut:
1. Remaja adalah masa kelahiran baru bagi setiap manusia, dari masa peralihan kanak – kanak.
2. Ada empat tahapan perkembangan remaja yang harus dilewati bagi setiap manusia, yang tiap tahapnya akan mengalami perubahan yang drastis.
3. Masa remaja adalah masa dimana orang mencari identitas diri, orang mengalami berbagai masalah baru, dan menimbulkan ketakutan.
4. Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah keluarga, lingkungan sekolah, dan teman sebaya.
5. Masa remaja banyak mengalami permasalahan, karena seorang remaja sedang mencari identitas diri.

B. Saran
Masa perkembangan remaja merupakan masa seseorang dalam keadaan yang tidak stabil, karena sedang mencari identitas diri.
Oleh karena itu, orangtua sebagai penuntun bagi remaja harus melakukan hal – hal seperti ini :
1. Membimbing remaja saat mengalami perubahan perkembangan yang dialami.
2. Lebih pengertian dengan keadaan remaja karena emosi remaja tidak stabil.
3. Jangan memberikan efek orangtua yang tidak mengerti keadaan remaja, karena itu akan memberikan efek negatif kepada remaja itu.
4. Lebih terbuka saat mereka menceritakan sesuatu.
5. Memberikan pengarahan tentang keagamaan, agar mereka tidak terjebaj ke jalan yang salah

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf Syamsu ( 2004 ) Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Johnson David W. ( 1970 ) The Social Psychologi of Education. New York: Holt Rinehart & Wiston Inc.
Hurlock Elizabeth ( 1950 ) Child Development. New York: Mc Graw Hill Book Company. Inc.
Pikunas Lustin ( 1976 ) Human Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd.
Sigelman carol K. & Shaffer David R. ( 1995 ) Life Span Human Development. California: Brooks/Cole Publishing Company.
Yusuf Syamsu LN. ( 1998 ) Model Bimbingan dan Konseling dengan Pendekatan Ekologis. Disertasi. Bandung: Pascasarjana IKIP Bandung.
Hartinah Siti. ( 2008 ) Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Refika Aditama
Susanto Eko. ( 2008 ). “PSIKOLOGI PERKEMBANGAN”. [Online]. Tersedia : eko13.wordpress.com/2008/04/12/psikologi-perkembangan/. Yang direkam pada 25 November 2011. [28 November 2011].
Momogi. ( 2010 ). “ PERMASALAHAN REMAJA “. [Online]. Tersedia : http://mo2gi.student.umm.ac.id/2010/02/04/permasalahan-remaja/. Yang direkam pada 25 November 2011. [28 November 2011].
Cahaya Muslim. ( 2007 ). “ REMAJA DAN LINGKUNGAN“. [Online]. Tersedia : http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/remaja-dan-lingkungan.html\. Yang direkam pada 25 November 2011. [28 November 2011].
Kompasiana ( 2010 ). “ PERANAN REMAJA DALAM SOSIALISASI BERMASYARAKAT “. [Online]. Tersedia : http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/23/peranan-pemuda-dalam-sosialisasi-bermasyarakat/. Yang direkam pada 11 Oktober 2011. [ 15 Oktober 2011 ]

By alvitarita

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSI ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma – norma kelompok, moral, dan tradisi. Meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara – cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang – orang di lingkungannya, baik orangtua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.
Dalam hal ini saya merasa tertarik untuk mengetahui Perkembangan Sosial dan Emosi Anak yang menjadi perkembangan psikologi yang harus di lewati oleh seorang anak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa teori ekologi Bronfenbrenner ?
2. Apa konteks perkembangan sosial ?
3. Apa strategi mendidik anak menurut teori erikson ?
4. Apa perkembangan emosi seseorang ?

C. Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui teori ekologi bronfenbrenner
2. Untuk mengetahui konteks perkembangan sosial
3. Untuk mengetahui strategi mendidik anak menurut teori erikson
4. Untuk mengetahui perkembangan emosi seseorang
D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui teori ekologi bronfenbrenner
2. Mengetahui konteks perkembangan sosial
3. Mengetahui strategi mendidik anak menurut teori erikson
4. Mengetahui perkembangan emosi seseorang

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Teori Ekologi Bronfenbrenner
Teori ekologi yang dikembangkan oleh Urine Bronfenbrenner (1917-2005) berfokus pada konteks-konteks sosial tempat anak-anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan mereka.
Ada lima sistem lingkungan, dari hubungan interpersonal yang kuat sampai pengaruh budayah internasional. Lima sistem tersebut adalah :
1. Mikrosistem
adalah lingkungan tempat individu tersebut menghabiskan banyak waktu seperti: keluarga, teman sebaya, dan yang lainnya. Bagi Bronfenbrenner, siswa bukanlah penerima pengalaman yang pasif, melainkan seseorang yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain dan membantu membetuk mikrosistem.
2. Mesositem,
adalah hubungan antara mikrosistem. Contohnya hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, serta antara keluarga dan teman sebaya. Sebagai contoh: pikirkanlah satu mesositem yang penting, yaitu hubungan antara keluarga dan sekolah. Dalam sebuah studi dari ribuan siswa kelas delapan, pengaruh pengalaman keluarga dan kelas terhadap sikap dan prestasi para siswa, diteliti ketika para siswa sedang mengalami masa transisi dari tahun terakhir sekolah menengah pertama ke tahun pertama sekolah menengah atas ( Epstein, 1983 ). Siswa yang diberi banyak kesempatan untuk berkomunikasi dan membuat keputusan, baik ketika berada di rumah atau di kelas, menunjukkan lebih memiliki inisiatif dan mendapatkan nilai yang lebih baik.
3. Ekosistem
Ekosistem berfungsi ketika pengalaman di keadaan lain ( dimana siswa tersebut tidak memiliki peran aktif ) mempengaruhi apa dialami siswa dan guru dalam konteks terdekat. Sebagai contoh, pikirkanlah dewan pengawas sekolah dan taman dalam suatu masyarakat. Mereka mempunyai peran yang kuat dalam menentukan kualitas sekolalah , taman, fasilitas rekreasi, dan perpustakaan. Keputusan mereka bisa membantu atau menghalangi perkembagan seorang anak.
4. Makro sistem
Melibatkan budaya yang yang lebih luas. Budaya merupakan istilah yang sangat luas, mencakup peran faktor etnis dan sosial ekonomi dalam perkembangan anak-anak. Inilah konteks yang paling menyeluruh dimana siswa dan guru tinggal, termasuk berbagai nilai dan kebiasaan masyarakat ( Cole,2006;Shwder,dkk,2006 ). Sebagai contoh, beberapa budaya ( seperti budaya negara islam- misalnya Mesir atau Iran ) menekankan peran gender tradisional. Budaya lain ( seperti yang ditemukan di Amerika serikat ) menerima peran gender yang lebih bervariasi. Disebagian besar negara islam, sistem pendidikan mendukung dominasi laki-laki. Di Amerika serikat, sekolah-sekolah lebih mendukung nilai kesetaraan dalam kesempatan untuk perempuan dan laki-laki.
5. Kronosistem
Mencangkup kondisi sosiohistoris dari perkembangan para siswa. Sebagai contoh, kehidupan anak-anak pada zaman sekarang berbeda dalam banyak hal, bila dibandingkan pada saat orang tua kakek atau nenek mereka masih anak-anak. Anak-anak pada zaman sekarang lebih sering berada di tempat pengasuh anak, menggunakan komputer, hidup dalam keluarga yang bercerai atau menikah lagi, kurang memiliki hubungan dengan kerabat di luar keluarga dekat mereka, dan tumbuh dewasa di berbagai kota yang terpencar-pencar bukan termasuk perkotaan, pedesaan, atau pinggiran kota.

B. Konteks Perkembangan Sosial
1. Keluarga
Anak-anak tumbuh dewasa dalam keluarga yang beragam. Setiap keluarga mempunyai pola asuh yang berbeda-beda dalam mengasuh anaknya. Gaya pengasuhan orangtua snagat berpengaruh terhadap pembentukan sosial anak.
Baumrind mengatakan bahwa ada empat bentuk utama gaya pengasuhan orang tua yaitu:
a. Pola asuh otoriter ( ooritarian parenting ),
bersifat membatasi dan menghukum.orang tua otoriter mendesak anak-anak untuk mengikuti perintah mereka dan menghormati mereka. Mereka mendapatkan batas dan kendali yang tegas terhadap anak-anak mereka dan mengijinkan sedikit komunikasi verbal.
b. Pola asuh Otoritatif ( autoritative parenting ),
mendorong anak-anak untuk mandiri, tetapi masih menempatkan batas-batas dan mengendalikan tindakan mereka.
c. Pola asuh mengabaikan ( neglectful parenting ),
adalah gaya pengasuhan dimana orang tua tidak terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Ketika anak-anak mereka menginjak masa remaja atau anak-anak, orangtua mereka tidak dapat menjawab pertanyaan ,”sekarang pukul 10 malam, apakah anda tahu dimana anak anda sekarang.
d. Pola asuh yang memanjakan ( indulgent parenting ),
adalah gaya pengasuhan dimana orangtua sangat terlibat dengan anak-anak mereka, tetapi hanya sedikit batasan atau larangan atas perilaku mereka. Orangtua ini membiarkan anak-anak mereka melakukan apa yang mereka inginkan dan mendapatkan keinginan mereka karena mereka yakin bahwa kombinasi dari pengasuhan yang mendukung dan kurangnya batasan, akan menghasilkan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah anak-anak ini biasanya tidak belajar untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri.

2. Keterlibatan orangtua dan hubungan sekolah – keluarga-masyarakat
Guru-guru yang berpengalaman, mengetahui pentingnya membuat orang tua terlibat dalam pendidikan anak-anak. Dalam sebuah survei , para guru menyebutkan keterlibatan orang tua sebagai prioritas nomor satu untuk meningkatkan kualitas pendidikan ( Chira, 1993 ). Namun sekolah sering kali tidak menentukan tujuan atau mengimplementasikan program yang efektif untuk merealisasikan keterlibatan tersebut ( Epstein, 2001 ).
Sebuh studi dilakukan untuk meneliti apakah pengasuhan di luar sekolah berhubungan dengan prestasi akademik anak-anak pada akhir kelas satu sekolah Dasar. Lima jenis pengasuhan di luar sekolah yang akan dipelajari adalah sebelum dan sesudah program sekolah, kegiatan ekstra kurikuler, pengasuh ayah, dan pengasuhan yang bukan dilakukan oleh orang dewasa-biasanya saudara kandung yang lebih tua. ( NICHD early Care research Network, 2004 ). “anak-anak yang secara konsisten berpatisipasi dalam aktivitas ekstarakulir selama taman kanak-kanak dan kelas satu mendapat niai ujian matematika standardisasi yang lebih tinggi daripada anak-anak yang secara konsisten berpartisipasi dalam aktivitas ini. Partisipasi dalam jenis pengasuhan di luar sekolah lainnya tidak secara konsisten berpartisipasi dalam aktivitas ini. Partisipasi dalam jenis pengasuhan di luar sekolah lainnya tidak berhubungan dengan perkembangan.

3. Teman Sebaya
Selain keluarga dan guru, teman sebaya juga memainkan peran penting dalam perkembangan anak-anak. Dalam konteks perkembangan anak, teman sebaya adalah anak-anak dengan usia atau tingkat kedewasaan yang kurang lebih sama. Interaksi teman sebaya yang memiliki usia yang sama memainkan peran khusus dalam perkembangan sosioemosional anak-anak. Salah satu fungsi yang paling penting dari teman sebaya adalah untuk memberikan sumber imformasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga.
Para ahli perkembangan telah menemukan lima jenis status teman sebaya yaitu:
a. Anak populer
Anak populer sering dianggap sebagai teman baik dan jarang tidak disukai oleh teman sebaya mereka.anak-anak populer meberikan penguatan, mendengarkan dengan seksama, menjaga komunikasi yang terbuka dengan teman sebaya, bahagia, bertindak sebagaimana adanya, menunjukan antusiasme dan perhatian terhadap orang lain, serta percaya diri tanpa bersifat sombong.
b. Anak-anak yang teabaikan
Anak-anak yang terabaikan jarang dianggap sebagai teman baik, tetapi tidak berati tidak disukai oleh teman sebaya mereka.
c. Anak-anak yang ditolak
Anak-anak yang ditolak jarang dianggap sebagai teman seseorang dan sering sekali tidak disukai oleh teman sebaya mereka.
d. Anak-anak yang kontroversial
Anak yang kontroversial sering dianggap baik sebagai teman baik seseorang dan bisa pula sebagai anak yang tidak disukai. Baru-baru ini, dalam suatu studi longitudinal selama 2 tahun menekankan pentingnya persahabatan ( Wentzel, bary, & Caldwell, 2004 ). Para siswa kelas enam tidak memiliki teman, kurang terlibat dalam perilaku proporsional ( kerjasama, berbagi, membantu yang lain ), mendapatkan nilai yang lebih rendah, dan lebih sedih secara emosional daripada rekan-rekan mereka yang memliki satu atau lebih teman.

4. Sekolah
Disekolah, anak-anak menghabiskan bertahun-tahun waktunya sebagai anggota dari satu masyarakat terkecil yang memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan sosioemosional mereka. Dalam setiap kelas yang kita ajar, beberapa anak akan memiliki keterampilan sosial yang lemah, satu atau dua anak mungkin anak-anak yang ditolak, beberapa anak yang lain mungkin adalah anak-anak yang terabaikan. Ingatlahlah memperbaiki keterampilan sosial adalah lebih mudah ketika anak-anak berusia 10 tahun atau lebih mudah ( malik dan Fuman, 1993 ).
Pada masa remaja remaja reputasi teman sebaya menjadi semakin penting.
Berikut ini beberapa strategi yang bagus untuk memperbaiki keterampilan sosial anak-anak yaitu:
a. Membantu anak-anak yang ditolak untuk belajar mendengarkan teman sebaya dan “mendengarkan apa yang mereka katakan “ daripada berusaha untuk mendominsi teman sebaya.
b. Membantu anak-anak yang terabaikan mendapatkan perhatian dari teman sebaya dalam cara yang positif dan terus mempetahankan perhatian mereka.
c. Memberi pengetahuan kepada anak-anak yang memiliki keterampilan sosial yang rendah tentang cara meningkatkan keterampilan tersebut.
d. Membaca dan mendiskusikan buku yang sesuain tentang hubungan teman sebaya dengan siswa-siswa dan merencanakan permaianan serta aktifitas yang mendukung.
Berikut ini beberapa tema pendidikan yang sesuai dengan perkembangan ( Bredekamp & Copple, 1997 ):
1) Bidang perkembangan anak- fisik, kognitif, dan sosio emosional-memilikihubungan yang erat. Perkembangan dalam satu bidang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan dalam bidang-bidang lain.
2) Perkembangan terjadi dlam satu urutan yang relatif teratur dengan kemampuan. Keterampilan, dan pengetahuan yang berikutnya terbentuk di atas yang telah dipelajari.
3) Variasi individu mencirikan perkembangan anak
4) Perkembangan dipengaruhi oleh banyak konteks sosial dan budaya.
5) Anak-anak adalah pelajar yang aktif dan harus didorong untuk membentuk suatu pemahaman tentang dunia di sekeliling mereka.
6) Perkembangan mengalami kemajuan ketika anak-anak memiliki kesempatan untuk melatih keterampilan yang baru dipelajari dan ketika mereka mengalami sebuah tantangan di luar tingkat penguasaan mereka saat ini.
7) Anak-anak berkembang denga sangat baik dalam lingkungan dimana mereka merasa aman dan dihargai, kebutuhan fisik mereka terpenuhi, dan mereka merasa aman secara psikologis.

C. Strategi Mendidik Anak Sesuai Teori Erikson
1. Mendorong insiatif dalam diri anak-anak.
Anak – anak pada program pendidikan pra sekolah dan masa kanak-kanak awal harus diberi banyak kebebasan untuk mengeksplorasi dunia mereka. Mereka harus diijinkan untuk memilih beberapa aktifitas di mana mereka akan terlibat dan dan diberi materi yang menarik untuk merangsang imajinasi mereka. Anak-anak pada tingakatan ini senang bermain. Bermain tidak hanya memberi manfaat untuk perkembang sosial emosional mereka tetapi juga mearupakan media yang penting untuk pertumbuhan kognitif mereka.
2. Mendorong anak-anak sekolah dasar untuk lebih rajin.
Para guru mempunyai tanggung jawab khusus untuk mendorong anak-anak lebih rajin. Erikson berharap guru-guru dapat memberi susasana yang mebuat anak-anak bergairah untuk belajar.
3. Menstimulasi eksplorasi identitas pada masa remaja.
Kenali bahwa identitas siswa itu bersifat multi dimensional. Aspek-aspek mencangkup tujuan pendidikan, perestasi intelektual, serta minat dan hobi olah raga, musik dan bidang-bidang lain. Mintalah para remaja untuk menulis esay tentang aspek-aspek tersebut, mengeksplorasi siapa diri mereka, dan apa yang mereka ingin mereka lakukan dalam hidup mereka. Dorongah para remaja untuk berpikir secara independend dengan bebas mengungkapkan pandangan mereka.
4. Periksalah hidup anda sebagai guru melalui lensa delapan tahapan Erikson.
Sebagai contoh, anda mungkin berada pada usia dimana Erikson mengatakan bahwa isu yang paling penting adalah identitas versus kebingungan identitas. Sebuah aspek penting dari perkembangan bagi orang dewasa awal adalah memiliki hubungan yang positif dan akrab dengan orang lain.
5. Manfaatkan karakteristik dan beberapa tahapan Erikson yang lain.
Guru-guru yang kompeten, dapat dipercaya, menunjukan inisiatif, rajin dan menunjukan penguasaan, serta termotivasi untuk mengontribusikan sesuatu yang berarti untuk generasi berikutnya.

D. Perkembangan Emosi
1. Regulasi Diri dan Minat Terhadap Lingkungan
Kemampuan anak untuk mengolah rangsang dari lingkungan dan menenangkan diri. Bila anak masih belum mampu meregulasikan diri maka ia akan tenggelam dalam usaha mencari rangsang yang dibutuhkannya atau sebaliknya menghindari rangsang yang membuatnya tidak nyaman. Dengan demikian ia tidak bisa memperhatikan lingkungan secara lebih bermakna. Kemampuan yang dimiliki:
a. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang dalam lingkungan sedikitnya selama 3 detik
b. Bisa tenang dan terfokus pada sesuatu sedikitnya 2 menit
c. Pulih dari kondisi tidak menyenangkan dalam 20 menit dengan bantuan
d. Menunjukkan minat terhadap pengasuh, tidak hanya terhadap benda

2. Keakraban – Keintiman
Kemampuan anak untuk terlibat dalam suatu relasi yang hangat, akrab, menyenangkan dan penuh cinta. Pengasuh merupakan hal terpenting dalam dunianya. Kemampuan yang dimiliki:
a. Menunjukkan respon terhadap tawaran pengasuh ( dengan senyum, kerenyit, vokalisasi, meraih dan tingkah laku bertujuan yang lain )
b. Menunjukkan respon terhadap tawaran pengasuh dengan rasa senang yang nyata
c. Menunjukkan respon terhadap tawaran pengasuh dengan rasa ingin tahu dan minat asertif ( misalnya dengan mengamati wajah )
d. Bisa mengantisipasi bahwa benda yang ada jadi hilang dari pandangannya ( misalnya dengan tersenyum atau berceloteh untuk menunjukkan minat )
e. Menunjukkan rasa tidak suka bila didiamkan/tidak direspon selama sedikitnya 30 detik saat bermain
f. Memprotes dan mulai marah saat frustrasi
g. Pulih dari kondisi tidak menyenangkan dalam 15 menit dengan bantuan

3. Komunikasi Dua Arah
Kemampuan anak untuk terlibat dalam komunikasi dua arah, menutup siklus komunikasi ( aksi-reaksi ). Komunikasi di sini tidak harus verbal, yang penting ia bisa mengkomunikasikan intensi atau tujuannya dan kemudian mengenal konsep sebabakibat ( berpikir logis ) dan konsep diri. la mulai menyadari bahwa tingkah lakunya berdampak terhadap lingkungan. Sehingga mulai muncul keinginan untuk aktif memilih atau menentukan pilihan dan berinisiatif. Kemampuan yang dimiliki:
a. Menunjukkan respon terhadap gestures pengasuh dengan gestures bertujuan ( misalnya meraih ingin digendong bila tangan kita terentang, menatap atau berceloteh bila diajak bicara )
b. Memulai interaksi dengan pengasuh ( misalnya memegang hidung/rambut anda, mengulurkan tangan ingin digendong )
c. Menunjukkan emosi akrab atau kedekatan ( balas memeluk, meraih ingin digendong bila tangan terentang ), kegembiraan dan kegairahan ( tersenyum senang saat mengambil mainan dari mulut anda dan memasukkannya ke mulutnya sendiri ), rasa ingin tahu yang asertif ( menyentuh dan mengelus rambut anda ), protes dan marah ( mendorong makanan di atas meja sampai jatuh, menjerit bila mainan yang diinginkan tidak diberikan ), takut ( membalik atau menjauh, tampak ketakutan, menangis bila orang tak dikenal mendekatinya terlalu tiba-tiba )
d. Pulih dari rasa tidak senang dalam 10 menit dengan terlibat dalam interaksi sosial

4. Komunikasi Kompleks
Kemampuan anak untuk menciptakan komunikasi kompleks ( sekitar 10 siklus ), mengekspresikan keinginan dan emosi secara lebih berwarna, kompleks dan kreatif. Mulai menyertakan keinginannya dalam bermain, tidak hanya mengikuti perintah atau petunjuk pengasuh atau orang tua. Selanjutnya hal ini akan menjadi dasar terbentuknya konsep diri dan kepribadian. la mampu memahami pola karakter dan tingkah laku orang lain sehingga mulai memahami apakah tingkah lakunya disetujui atau tidak, akan dipuji atau diejek, dll sehingga mulai berkembang kemampuan memprediksi kejadian dan kemudian mengarah pada kemampuan memecahkan masalah berdasarkan keurutan logis. Kemampuan yang dimiliki:
a. Menutup sedikitnya 10 siklus komunikasi secara berkelanjutan ( misalnya memegang tangan anda. menuntun ke lemari es, menunjuk, berceloteh, berespon terhadap pertanyaan anda dengan celoteh dan gestures, meneruskan pertukaran gestural sampai anda membuka pintu lemari es dan mengambil apa yang diinginkannya )
b. Menirukan tingkah laku pengasuh dengan bertujuan ( misalnya memakai topi ayah dan berjalan berkeliling menunggu pujian )
c. Menutup sedikitnya 10 siklus dengan vokalisasi atau kata, ekspresi wajah, saling menyentuh atau memeluk, bergerak dalam ruang, aktifitas motorik ( kejarkejaran ) dan komunikasi dengan jarak yang jauh ( di ruangan yang luas ada jarak antara dirinya dan pengasuh )
d. Menutup sedikitnya 3 siklus berkelanjutan saat merasakan emosi:
1) Keakraban atau kedekatan ( menunjukkan ekspresi wajah, gestures dan vokalisasi saat mendekat ingin dipeluk, dicium, atau menirukan bicara di telpon mainannya saat anda menerima telpon sungguhan ),
2) kegembiraan dan kegairahan ( menunjukkan vokalisasi dan tatapan untuk mengundang seseorang berbagi kegairahan mengenai sesuatu yang menarik, berbagi guyonan dengan anak lain atau orang dewasa dengan tertawa bersama ),
3) rasa ingin tahu yang asertif ( bereksplorasi sendiri, menggunakan kemampuan komunikasi jarak jauh untuk merasakan kedekatan dengan anda saat ia bermain atau bereksplorasi sendirian ),
4) takut ( menyatakan minta dilindungi dengan berkata ‘nggak’ sambil lari ke belakang anda ),
5) marah ( memukul, berteriak, membanting atau tiduran di lantai, atau memandang dengan tatapan marah dan dingin ),
6) pembatasan ( mengerti dan berespon positif terhadap ‘tidak, berhenti!’
atau peringatan dengan jari atau ekspresi marah )
e. Pulih dari rasa tidak senang dengan meniru tingkah laku ( membantingbanting
kaki ke lantai atau membalas teriak bila dibentak )

5. Ide Emosional
Kemampuan anak untuk menciptakan ide, mengenal simbol, termasuk bahasa yang melibatkan emosi. Kemampuan menciptakan ide awalnya berkembang melalui permainan pura-pura yang memberikan kesempatan bereksperimen dengan perasaan, keinginan dan harapan. Kemudian ia mulai memberi nama pada benda-benda sekeliling yang berarti, disini ia mulai mengerti penggunaan simbol benda konkrit. Kemudian simbol menjadi semakin meluas pada aktifitas dan emosi dan ia belajar kemampuan memanipulasi ide untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Kemampuan yang dimiliki:
a. Bermain pura-pura dengan sedikitnya 2 ide yang bisa saja belum terkait ( mobil tabrakan, memuat batu di mobil itu, memeluk boneka kemudian pura-pura minum the )
b. Menggunakan kata-kata, gambar, gestures untuk mengungkapkan sedikitnya 2 ide sekaligus, tidlak harus berhubungan (‘ nggak bobok, main’ )
c. Mengkomunikasikan keinginan, intensi dan perasaannya dengan katakata, beberapa gestures sekaligus, sentuhan ( pelukan )
d. Bermain permainan motorik dengan aturan yang sederhana ( bergiliran melempar bola )
e. Menggunakan bermain pura-pura untuk mengkomunikasikan emosi berikut dalam sedikitnya 2 ide:
1) Keakraban atau kedekatan ( boneka berkata,”peluk aku”, dijawabnya “aku cium kamu” ),
2) kegembiraan dan kegairahan ( mengucapkan kata-kata lucu dan tertawa ),
3) rasa ingin tahu yang asertif ( pura-pura menerbangkan pesawat berkeliling ruangan dan mengatakan akan terbang ke bulan ),
4) takut ( boneka takut suara bising dan memanggil ibunya ),
5) marah ( tentara-tentaraan saling menembak dan jatuh ),
6) pembatasan ( boneka mengikuti aturan minum the )
f. Pulih dari rasa tidak senang dengan main pura-pura ( pura-pura makan kue yang tidak boleh dimakannya ).

6. Berpikir Emosional
Kemampuan anak untuk menciptakan kaitan antar berbagai ide sehingga mampu berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas. Mampu mengekspresikan berbagai emosi dalam bermain, memprediksi perasaan dan akiba’ dari suatu aktifitas, mengenal konsep ruang, waktu serta bisa memecahkan masalah secara verbal dan memiliki pendapatnya sendiri. Bila anak bisa mencapai kemampuan ini maka ia akan siap belajar berpikir abstrak dan mempolajari strategi berpikir. Kemampuan yang dimiliki:
a. Bermain pura-pura dengan mengkaitkan sedikitnya 2 ide secara logis, walau
kadang-kadang ide itu sendiri tidak realistik ( misalnya dengan mobil berkunjung ke bulan, dengan cara terbang cepat sekali )
b. Mengembangkan ide bermain pura-pura orang dewasa ( misalnya anak memasak sup, ditanya apa yang dimasak, dijawabnya “batu-batu dan ranting-ranting” )
c. Berbicara dengan ide-ide yang saling terkait secara logis dan realistik ( “nggak mau tidur, mau nonton tv” )
d. Menutup sedikitnya 2 siklus konunikasi verbal ( “mau pergi ke luar” ditanya kenapa, dijawabnya “mau main” )
e. Berkomunikasi secara logis, mengaitkan sedikitnya 2 ide mengenai intensi, keinginan, kebutuhan, perasaan dengan kata-kata, beberapa gestures ( pura-pura jadi anjing yang marah ) dan sentuhan ( sering memeluk sebagai bagian dari drama ketika anak menjadi ayah )
f. Bermain motorik dan spasial dengan aturan ( bergantian meluncur )
g. Menggunakan permainan pura-pura atau kata-kata untuk mengkomunikasikan sedikitnya 2 ide yang terkait secara logis mengenai emosi:
1) kedekatan ( boneka terluka, ibu mengobati ),
2) kegembiraan dan kegairahan ( mengatakan istilah ‘kamar mandi’ lalu
tertawa ),
3) rasa ingin tahu yang asertif ( tentara yang baikditugaskan mencari
putri yang hilang ),
4) takut ( monster menakut-nakuti anak kecil ),
5) marah ( tentara yang baik melawan yang jahat ),
6) pembatasan ( tentara hanya boleh memukul orang jahat karena peraturan )
h. Pulih dari rasa tidak senang dengan bermain pura-pura yang memiliki keurutan logis, kadang mengisyaratkan cara menghadapi masalah ( misalnya, anak menjadi guru yang sok mengatur kelas )

BAB III
PEMBAHASAN TEORI

A. Mengevaluasi Teori Brenfenbrenner
Teori Brenfenbrenner telah memperoleh popularitas beberapa tahun terakhir. Teori ini sedikit memberi satu dari sedikit kerangka kerja teoritis untuk menelaah konteks sosial, secara sisematis baik pada level makro maupun level mikro, menjebatani antara teori perilaku yang berfokus pada hal kecil dan teori antropologi yang menganalisis hal yang lebih besar.
Teori ini sangat menolong dan menunjukan bahwa perbedaan dalam kehidupan anak-anak saling berkaitan. Para pengkritik teori Brenfenbrenner mengatakan bahwa teori tersebut tidak terlalu memperhatikan faktor biologis dan faktor kognitif perkembangan anak-anak. Mereka juga menyatakan bahwa teori tersebut tidak membahas perkembangan secara bertahap, yang merupakan fokus beberapa teori, seperti teori Piaget dan teori Erikson.

B. Tolak Ukur perkembangan sosial anak usia Middle dan Late Childhood
Usia Kompetensi dan Kemampuan sosial Kognisi Sosial Perilaku Prososial : Nilai dan Moral
6-11 1. Membina hubungan dengan sesama teman sebaya daripada dengan orang dewasa
2. Persahabatan menjadi lebih utama dan sedikit lebih pendek
3. Terlibat dalam permainan sosiodramatik
4. Mulai tertari pada olahraga dan games
5. Lebih mandiri ketika berkerja dan bermain
6. Bekerjasama dengan teman sebaya, guru dan orang tua
7. Mengembangkan kemapuan bernegosiasi 1. Meningkatkan kepekaan akan diri sendiri
2. Cenderung menjadi kompetitifa dan membanding-bandingkan antara dirinya dan orang lain.
3. Memahami perbedaan gender
4. Identitas gender semakin kuat pahami
5. Condong pada kehalusan perilaku; mulai memahami bahwa tindakan tidak selalu merefleksikan pikiran dan perasaan 1. Kelompok adalah kekuatan yang kuat
2. Jika aturan bermain membawa konflik, menunjukkan sikap kewajaran
3. Menghargai otoritas karena kekuatan figure otoritas yang dilihatnya
4. Memiliki pandangan yang tegas tentang persamaan; setiap harus orang memperoleh jumlah yang sama ketika sesuatu dibagikan
5. Mampu untuk mempertimbangkan faktor hubungan seperti motivasi dalam penalaran moral
C. Perkembangan sosio – emosional
Dalam perkembangan sosio-emosional anak, tentu ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhinya. Ada 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan sosio-emosional anak yaitu:
1. Perlakuan dan Cara Pengasuhan Orang Tua
Secara garis besar ada tiga tipe gaya pengasuhan orang tua yakni otoriter, permisif, dan otoritatif.

Tipe Perilaku Orang Tua Karakteristik Anak
Otoriter Kontrol yang ketat dan penilaian yang kritis terhadap perilaku anak, sedikit dialog ( memberi dan menerima ) secara verbal, serta kurang hangat dan kurang terjalin secara emosional Menarik diri dari pergaulan serta tidak puas dan tidak percaya terhadap orang lain.
Permisif Tidak mengontro, tidak menuntut, sedikit menerapkan hukuman dan kekuasaan, penggunaan nalar, hangat dan menerima Kurang dalam harga diri, kendali diri, dan kecenderungan untuk bereksplorasi
Otoritatif Mengontrol, menuntut, hangat, reseptif, rasional, berdialog ( memberi dan menerima ) secara verbal, serta menghargai disiplin, kepercayaan diri, dan keunikan Mandiri, bertanggung jawab secara sosial, memiliki kendali diri, bersifat eksplloratif, dan percaya diri

2. Kesesuaian antara bayi dan pengasuh
Dalam proses interaksi antara pengasuh dan anak, perilaku mereka bisa saling mempengaruhi dan menyesuaikan diri satu sama lain sehingga ada penyesuain diri antar masing-masing. Jika terjadi ketidakcocokan antara pengasuh dan anak maka akan berdampak anak mengalami stres, murung, frustasi, dan bahkan menimbulkan rasa kebencian. Jadi pengasuh harus benar-benar bisa menangkap respon apa yang sang anak inginkan, agar terjadi jalinan kasih sayang antara mereka, dan tidak menimbulkan rasa benci.
3. Temperamen bayi
Temperamen bayi merupakan salah satu hal yang harus dipahami oleh sang pengasuh agar bisa terjalin hubungan yang akrab antara pengasuh dan anak. Ada tiga gaya perilaku bayi yakni bayi yang mudah, bayi yang sulit dan bayi yang lamban. Ciri bayi yang mudah adalah memiliki keteraturan, adaptif, bahagia dan mau mendekati objek atau orang baru. Bayi yang sulit cenderung tidak teratur, tidak senang terhadap perubahan situasi, sering menangis, menempakkan perasaan negative. Sedangkan bayi yang lamban adalah bayi yang cenderung kurang adaptif, menarik diri, kurang aktif dan intensitas respon kurang.
4. Perlakuan guru di sekolah
Apa yang guru perbuat di sekolah akan berpengaruh terhadap anak didiknya. Perlakuan guru terhadap anak memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan sosioemosional anak. Pengaruh guru tidak hanya pada aspek kognitif anak, tetapi juga segenap perilaku dan pribadi yang ditampilkan guru di depan anak didiknya, karena secara langsung hal tersebut bisa menjadi pengalaman-pengalaman anak.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian tersebut diatas, dengan ini saya kemukakan beberapa hal kesimpulan, sebagai berikut:
1. Teori Ekologi Bronfenbrenner
a. Mikrosistem
b. Mesositem,
c. Ekosistem
d. Makro sistem
e. Kronosistem
2. Konteks Perkembangan Sosial
a. Keluarga
b. Keterlibatan orangtua dan hubungan sekolah – keluarga-masyarakat
c. Teman Sebaya
d. Sekolah
3. Strategi Mendidik Anak Sesuai Teori Erikson
a. Mendorong insiatif dalam diri anak-anak.
b. Mendorong anak-anak sekolah dasar untuk lebih rajin.
c. Menstimulasi eksplorasi identitas pada masa remaja.
d. Periksalah hidup anda sebagai guru melalui lensa delapan tahapan Erikson.
e. Manfaatkan karakteristik dan beberapa tahapan Erikson yang lain.
4. Perkembangan Emosi
a. Regulasi Diri dan Minat Terhadap Lingkungan
b. Keakraban – Keintiman
c. Komunikasi Dua Arah
d. Komunikasi Kompleks
e. Ide Emosional
f. Berpikir Emosional

B. Saran
Jhon Locke mengemukakan bahwa pengalaman dan lingkungan anak merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Perkembangan sosial dan emsional adalah perkembangan perilaku anak dalam pengendalian dan penyesuaian diri dengan aturan-aturan masyarakat di mana anak itu berada. Perkembangan sosial dan emosional bukan hanya sekedar hasil kematangan, tetapi sebagian besar merupakan hasil belajar. Oleh karena itu menyediakan kondisi yang kondusif sangat penting dilakukan agar meningkatkan kematangan dan kesempatan belajar. Pengkondisian yang baik akan menjadikan fungsi sosial emosional anak menjadi semakin berkembang.
Pengendalian emosi dan tatanan sosial yang baik serta sehat akan dapat membantu anak dalam mengembangkan konsep diri yang positif dan akan menjadikan perkembangan sosial emosional anak lebih optimal.
Faktor pematangan dan faktor belajar keduanya mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak. Adapun arah pematangan dan belajar, keduanya sama. Dari sisi emosi, arah pematangan belajar ingin mengantarkan anak pada kestabilan, sedangkan dari sisi sosial, ingin mengantarkan anak pada kematangan bersosialisasi. Beberapa teori yang telah diuraikan di atas diharap dapat membantu para pendidik untuk menerapkan impliksinya dalam proses mengasuh dan mendidik anak.

DAFTAR PUSTAKA

Crain, Wlliam, Teori Perkembangan, Konsep dan Aplikasi- edisi 3 , Pustaka Belajar, 2007
Sujiono, Yuliani, M.Pd, Dr., Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Bahan Ajar Universitas Negeri Jakarta, 2007
Rachmawati, Yeni & Nugraha, Ali, Metode Perkembangan Sosial Emosional, Universitas Terbuka.
Yusuf Syamsu ( 2004 ) Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Yusuf Syamsu LN. ( 1998 ) Model Bimbingan dan Konseling dengan Pendekatan Ekologis. Disertasi. Bandung: Pascasarjana IKIP Bandung.
Hartinah Siti. ( 2008 ) Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Refika Aditama
Hartono unyhie. ( 2011 ). “Teori Perkembangan Sosial Emosional”. [Online]. Tersedia http://hartonounyhie.blogspot.com/2011/02/teori-perkembangan-sosial-emosional.html .Yang direkam pada 23 November 2011. [26 November 2011].
Kongkoh. ( 2011 ). “Perkembangan Sosial dan Emosional Anak “. [Online]. Tersedia : http://kongkoh.blogspot.com/2011/01/perkembangan-sosial-dan-emosional-anak.html. Yang direkam pada 23 November 2011. [ 26 November 2011].
Kompasiana Edukasi. ( 2011 ). “ Pemahaman tentang Perkembangan Sosio – Emosional – Anak“. [Online]. Tersedia http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/11/pemahaman-tentang-perkembangan-sosio-emosional-anak/.. Yang direkam pada 23 November 2011. [ 26 November 2011 ]

By alvitarita

TEORI PERKEMBANGAN JEAN PIAGET

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam konteks psikologi pembelajaran, pengertian tentang belajar sangat beragam, beragamnya pengertian tersebut dipengaruhi oleh teori yang melandasi rumusan belajar sendiri. Teori belajar merupakan prinsip umum yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Dari sekian banyak teori pembelajaran yang paling menonjol adalah connectionism, cassical conditioning, operan konditioning dan teori pendekatan kognitif.
Namun, saya tidak akan membahas semua teori itu, saya hanya akan membahas teori yang terakhir yaitu “pendekatan kognitif”. Dimana teori tersebut salah satunya diciptakan oleh seorang tokoh bernama Jean Piaget yang melihat proses belajar mengajar dari sudut pandang psikologi perkembangan kognitif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana biografi Jean Piaget ?
2. Apa pengertian kognitif ?
3. Apa prinsip dasar teori Jean Piaget ?
4. Apa aspek inteligensi Jean Piaget ?
5. Apa teori perkembangan Jean Piaget ?
6. Bagaimana implementasi teori Jean Piaget terhadap pembelajaran ?

C. Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Biografi Jean Piaget.
2. Untuk mengetahui pengertian kognitif.
3. Untuk mengetahui prinsip dasar teori Jean Piaget.
4. Untuk mengetahui aspek inteligensi Jean Piaget.
5. Untuk mengetahui teori perkembangan Jean Piaget.
6. Untuk mengetahui implementasi teori Jean Piaget terhadap pembelajaran.

D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui Biografi Jean Piaget.
2. Mengetahui pengertian kognitif.
3. Mengetahui prinsip dasar teori Jean Piaget.
4. Mengetahui aspek inteligensi Jean Piaget.
5. Mengetahui teori perkembangan Jean Piaget.
6. Mengetahui. implementasi teori Jean Piaget terhadap pembelajaran.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Biografi Jean Piaget
1. Tempat lahir
Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss , yang berbahasa Perancis pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.
B. Pengertian Kognitif

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan :
1. pengetahuan ( knowledge )
2. pemahaman ( comprehention )
3. penerapan ( aplication )
4. analisa ( analisis )
5. sintesa ( sinthesis )
6. evaluasi ( evaluation ).
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional ( akal ).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.

C. Prinsip Dasar Teori Jean Piaget

Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis ( perkembangan jiwa ). Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi.

Faktor yang berpengaruh dalam perkembangan kognitif, yaitu :
1. Fisik
Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
2. Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3. Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif.
4. Proses pengaturan diri ( ekuilibrasi )
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.

D. Aspek Intelegensi Jean Piaget

Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :
1. Struktur ( skemata atau schemas )
Struktur dan organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yang dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya ( Flavell, Miller & Miller )
Dua hal penting yang harus diingat tentang membangun struktur kognitif :
a. Seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses.
b. Lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural.
2. Isi ( content )
Isi adalah pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yang anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting dibanding dengan struktur dan fungsinya, bila isi adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” dan “mengapa” ditentukan oleh kognitif atau intelektual.
3. Fungsi ( fungtion )
Yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yang berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi dan adaptasi. Organisasi cenderung untuk mengintegrasi diri dan dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas.

Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara :
a. Organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar dan mencocokkannya ke dalam struktur yang sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yang mereka makan menjadi bagian dari diri mereka.
b. Organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
E. Teori Perkembangan Piaget

Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.
1. Tahap – tahap Perkembangan
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
a. Tahapan sensorimotor (usia 0–2 tahun)
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode.
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial atau persepsi penting dalam enam sub-tahapan :
1). Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2). Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan – kebiasaan.
3). Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4). Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5). Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6). Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

b. Tahapan praoperasional (usia 2–7 tahun)
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
c. Tahapan operasional konkrit (usia 7–11 tahun)

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai.

Proses-proses penting selama tahapan operasional konkrit adalah :
1) Pengurutan
kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
2) Klasifikasi
kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan).
3) Decentering
anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
4) Reversibility
anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
5) Konservasi
memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
6) Penghilangan sifat Egosentrisme
kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

d. Tahapan operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

2. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
b. Universal (tidak terkait budaya).
c. Bisa digeneralisasi : representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan.
d. Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis.
e. Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi).
f. Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif.

3. Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada :
a. Berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
b. Teori dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar pembelajaran diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan benda-benda dan fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan untuk menumbuh-kembangkan kemampuan berpikir, antara lain kemampuan berpikir konservasi.
c. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya , yang mendalami bagaimana anak berpikir dan berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.
d. Menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri.
e. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka.
f. Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus –menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. PBI dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget ini
g. Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.

F. Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
1. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
2. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3. Tidak menekankan pada praktek – praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
4. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.

BAB III
PEMBAHASAN TEORI

A. Pengertian Kognitif

Kognitif adalah kemampuan seseorang untuk mengembangkan diri yang melalui berbagai tahap seperti :
a. pengetahuan ( knowledge )
b. pemahaman ( comprehention )
c. penerapan ( aplication )
d. analisa ( analisis )
e. sintesa ( sinthesis )
f. evaluasi ( evaluation ).
Kognitif seseorang adalah cara untuk seseorang mengetahui kemampuan yang dimilikinya karena ada berbagai macam tahapan yang harus ditempuh.

B. Prinsip Dasar Teori Piaget

Teori piaget mendasarkan adanya kekuatan antara fungsi biologis dan psikologis ( perkembangan jiwa ). Kodratnya manusia mempunyai kelebihan akal dan nafsu. Dalam agama islam, manusia sangat mulia di hadapan allah, karena manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna dari makhluk lain. Tetapi karena kelebihannya juga, manusia akan menjadi lebih mulia dari para malaikat saat memiliki sifat yang sangat baik dan akan menjadi lebih hina dari hewan apabila memiliki sifat yang sangat buruk.
Manusia menggunakan akalnya untuk menciptakan barang – barang yang dapat digunakannya untuk hidup, seperti : baju untuk melindungi tubuh, rumah untuk berteduh, dan makanan untuk bertahan hidup. Jika seseorang dapat menahan nafsunya, maka manusia tersebut dapat menjadi orang yang sabar dan baik. Tetapi, jika seseorang tidak dapat menahan hawa nafsunya, tunggulah kehancurannya.

C. Tahap – tahap Perkembangan Menurut Piaget

1. Tahap praoperasional (preoperational stage)
Yang terjadi dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif. Egosentrisme adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif seseorang dengan perspektif oranglain dengan kata lain anak melihat sesuatu hanya dari sisi dirinya.
Animisme adalah keyakinan bahwa obyek yang tidak bergerak memiliki kualiatas semacam kehidupan dan dapat bertindak. Seperti sorang anak yang mengatakan, “Pohon itu bergoyang-goyang mendorong daunnya dan daunnya jatuh.” Sedangkan Intuitif adalah anak-anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin mengetahui jawaban atas semua bentuk pertanyaan. Mereka mengatakan mengetahui sesuatu tetapi mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional.
2. Tahap operasional konkrit (concrete operational stage),
Yang berlangsung dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang spesifik atau konkrit.
3. Tahap operasional formal (formal operational stage)
Yang terlihat pada usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.
Sebagai pemikiran yang abstrak, remaja mengembangkan gambaran keadaan yang ideal. Mereka dapat berpikir seperti apakah orangtua yang ideal dan membandingkan orangtua mereka dengan standar ideal yang mereka miliki. Mereka mulai mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan

D. Implementasi Teori Piaget dalam Pembelajaran

Implementasi teori piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

E. Kritik terhadap Teori Piaget
1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget.
2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.
3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian tersebut diatas, dengan ini saya kemukakan beberapa hal kesimpulan, sebagai berikut:
1. Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss , yang berbahasa Perancis pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.
2. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan :
a. pengetahuan ( knowledge )
b. pemahaman ( comprehention )
c. penerapan ( aplication )
d. analisa ( analisis )
e. sintesa ( sinthesis )
f. evaluasi ( evaluation ).
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional ( akal ).
3. Prinsip dasar teori piaget adalah Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi dan psikologis ( perkembangan jiwa ).
4. Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda :
a. Struktur ( skemata atau schemas )
b. Isi ( contens )
c. Fungsi ( fungsion )

5. Tahap perkembangan menurut piaget :
a. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
b. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
c. Tahapan operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
d. Tahapan operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

6. Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
a. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.
b. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
c. Tidak menekankan pada praktek – praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
d. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda
B. Saran
Dalam dunia yang modern ini, perkembangan zaman sangat cepat. Perkembangan telekomunikasi membuat seseorang menjadi tahu dunia lain. Tetapi, banyak keburukan yang mengancam kalangan anak – anak maupun remaja. Sebagai orang tua, seharusnya memberikan pengarahan kepada anaknya mengenai kebaikan dan keburukan hidup. Jangan mengabaikan pendapat mereka, karena mereka akan merasa tidak di anggap oleh orang tua.
Saran saya untuk orang tua adalah :
1. Selalu mengawasi kegiatan anaknya, tetapi jangan membuat anak merasa terkekang
2. Memberikan kebebasan pendapat pada anak – anak
3. Mencontohkan hal – hal yang baik agar anak terbiasa dengan perilaku yang di contohkan orang tua
4. Memberikan pengertian tentang keburukan dan kebaikan dunia yang sedang mereka alami, agar mereka tidak terjebak ke jalan yang salah
5. Untuk para remaja putri, di berikan arahan saat mereka pertama kali dating bulan. Biasanya mereka akan bingung kenapa mereka mengalami seperti itu
6. Untuk para remaja juga di berikan arahan agar saat berteman dengan lawan jenis harus berhati – hati agar tidak terjadi perihal yang tidak di inginkan oleh kita, seperti hamil di luar nikah. Karena pada zaman ini banyak kalangan remaja yang ada di kota maupun desa mengalami hal tersebut. Mereka melakukan tersebut karena kurang adanya perhatian dari orang tua.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Woolfolk, Educational Psychology, Active Learning Edition, Bagian Pertama, Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar : 2009) hlm. 49-50
Anita Woolfolk. Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hlm. 51
Hartinah Siti. ( 2008 ) Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Refika Aditama
Johnson David W. ( 1970 ) The Social Psychologi of Education. New York: Holt Rinehart & Wiston Inc.
Hurlock Elizabeth ( 1950 ) Child Development. New York: Mc Graw Hill Book Company. Inc.
Baitul Alim Muhammad. ( 2009 ). “Teori Kognitif Psikologi Perkembangan Jean Piaget”. [Online]. Tersedia : http://www.psikologizone.com/teori-kognitif-psikologi-perkembangan-jean-piaget/06511234 .Yang direkam pada 13 November 2011. [18 November 2011].
Kompasiana Edukasi. ( 2011 ). “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Implementasinya dalam Pendidikan “. [Online]. Tersedia : http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-implementasinya-dalam-pendidikan/. Yang direkam pada 14 November 2011. [ 18 November 2011].
UIN Malang. ( 2011 ). “ Pandangan Teori Piaget Dalam Proses Belajar Dan Pembelajaran“. [Online]. Tersedia http://blog.uin-malang.ac.id/jokopurwanto/2011/03/17/pandangan-teori-piaget-dalam-proses-belajar-dan-pembelajaran/ .. Yang direkam pada 14 November 2011. [ 18 November 2011 ]

By alvitarita

RESUME PSIKOLOGI SOSIAL

BAB I
RANGKUMAN PSIKOLOGI SOSIAL
A. Pengantar Psikologi Sosial

1. Antara Akal Sehat dan Ilmu Pengetahuan
Psikologi sosial harus taat kepada disiplin ilmu dan tidak bisa hanya mengandalkan diri pada akal sehat (common sence) semata. Dalam masyarakat kita, masih ditemukan banyak orang yang berfikiran bahwa akal sehat sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi, akal sehat mengandung beberapa kendala. Kendala yang pertama adalah confirmation bias ( membenarkan pendapat sendiri ). Contohnya, dukun cilik ponari. Kendala lain adalah berpikir heuristic, yaitu mengikuti pikiran yang pertama kali muncul dalam benak. Pemikiran semacam ini disebut juga berpikir jalan pintas. Selain itu, ada kendala lain dari akal sehat, yaitu pengaruh perasaan atau mood effect. Emosi manusia selalu memengaruhi akalnya.
Akibat dari kendala-kendala itu, akal sehat sangat rentan terhadap sesat pikir dan inkonsistensi pikiran. Oleh karena itu, sebagai ilmu, psikologi sosial tidak berdasarkan akal sehat semata, tetapi melalui kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sosial, yaitu:
1) Berdasarkan pada data empiris, terukur, dan terverifikasi
2) Menggunakan teori-teori dan prosedur analisis yang sudah baku atau teruji
3) Berusaha memahami penyebab dari perilaku dan pemikiran sosial seseorang
4) Mempelajari proses kognitif
5) Memperhitungkan faktor lingkungan fisik, dan
6) Memperhatikan factor budaya

2. Sejarah Psikologi Sosial
Konsep psikologi sosial disebut sebagai folk psychologist. Sebutan ini berlaku bagi ilmuan Jerman pada pertengahan abad ke-19. Kurt Lewin sebagai salah satu tokoh psikologi sosial terkenal terkenal dengan teoritis tingkah laku. Pendapatnya adalah tingkah laku ( B: behavior ) merupakan hasil dari fungsi (f) individu (p) dan lingkungan ( E:environment ), secara singkat rumusnya adalah B = f(P, E).
Psikologi sosial juga kemudian dianggap terlalu positivistic, yaitu penerimaan nonkritis, sebagai satu pengetahuan yang didapat sebagai kebenaran tunggal tanpa adanya gugatan (Vaughan dan Hogg, 2002). Hal ini bisa menimbulkan distorsi dan salah arah ( misleading ) dalam menjelaskan berbagai hal tentang psikologi sosial.

3. Batas dan Ruang Lingkup
Batas dan ruang lingkup psikologi sosial adalah:
1) Psikologi sosial mempelajari perilaku manusia
2) Perilaku itu haruslah yang teramati dan terukur
3) Harus bisa diverifikasi oleh siapa saja ( publicy verifiable )
4) Tidak mempelajari perilaku yang kasat mata dan tidak terukur
5) Menghubungkan aspek-aspek psikologi sosial dari perilaku sosial dengan proses dan struktur kognitif yang lebih mendasar

B. Persepsi Sosial Mengenali dan Mengerti Orang Lain

1. Pengertian Persepsi Sosial
Secara umum, persepsi sosial adalah aktivitas memersepsikan orang lain dan apa yang membuat mereka dikenali. Melalui persepsi sosial, kita berusaha mencari tahu dan mengerti orang lain. Sebagai bidang kajian, persepsi sosial adalah studi terhadap bagaimana orang membentuk kesan dan membuat kesimpulan tentang orang lain ( Teifod, 2008 ).

2. Persepsi Sosial Sebagai Proses
Proses persepsi sosial dimulai dari pengenalan terhadap tanda-tanda nonverbal atau tingkah laku nonverbal yang ditampilkan orang lain. Tanda-tanda ini yang digunakan untuk mengenali dan memahami orang lain secara lebih jauh.
Pembentukan kesan didasari oleh kegiatan atribusi. Dalam proses persepsi sosial, atribusi merupakan merupakan langkah awal dari pembentukan kesan. Istilah atribusi secara umum merujuk pada proses mengenali penyebab dari tingkah laku orang lain dan sekaligus memperoleh pengetahuan tentang sifat-sifat serta disposisi-disposisi yang menetap pada orang lain

3. Tingkah Laku dan Komunikasi Nonverbal
Tingkah laku nonverbal dapat membantu kita untuk mencapai tujuan, yaitu:
a. Menyediakan informasi tentang perasaan dan niat secara ajek
b. Dapat digunakan untuk mengatur dan mengelola interaksi
c. Dapat digunakan mengungkapan keintiman
d. Dapat digunakan untuk menegakkan dominasi atau kendali
e. Memfasilitasi pencapaian tujuan dengan cara menunjuk, memberi tanda pujian

Penelitian-penelitian tentang komunikasi nonverbal menemukan ada lima saluran komunikasi nonverbal:
a. Ekspresi Wajah Sebagai Tanda dari Emosi Orang Lain
Penelitian-penelitian tentang hubungan antara ekspresi wajah dengan emosi menunjukan bahwa ada lima emosi dasar yang secara jelas diwakili oleh ekspresi wajah: takut, marah, bahagia, kaget, dan jijik
b. Kontak Mata Sebagai Tanda Nonverbal
Penelitian-penelitian tentang hubungan antara kontak mata dengan tatapan sebagai tanda-tanda nonverbal dengan keadaan emosional. Kontak mata merupakan unsur penting dalam percintaan, juga menjadi tanda dari ketertarikan dan keinginan mengenal lebih jauh.
c. Gerak-gerik, Gerakan Badan, dan Postur
Perpaduan posisi tubuh, gerakan badan, dan postur biasa disebut juga bahasa tubuh ( body language ). Gerakan-gerakan kecil ( gestiur ) yang berulang-ulang dapat mencerminkan perasaan cemas. Gestur dapat memberikan informasi yang lebih banyak tentang perasaan orang lain. Gesture tertentu memiliki makna yang berbeda antara perempuan dengan laki-laki ( Schubert,2004 )
d. Sentuhan
Pemahaman melalui sentuhan bergantung pada factor:
1) Siapa yang menampilkan sentuhan
2) Jenis kontak fisik
3) Konteks yang ada pada saat sentuhan ditampilkan
e. Komunikasi Nonverbal melalui Multi-saluran
Archer dan Akert ( 1991 ) menunjukan bahwa orang mampu menafsirkan tanda-tanda yang ditampilkan melalui beragam saluran komunikasi nonverbal dengan cukup tepat, dengan memanfaatkan berbagai tanda meski ada perbedaan pada beberapa tipe orang.

4. Atribusi : memahami sebab-sebab dari tingkah laku orang lain
a. Teori Atribusi dari Heider
Menurut Heider, ada dua sumber atribusi terhadap tingkah laku: (1) atribusi internal atau disposisional; (2) atribusi eksternal atau lingkungan.
Pada atribusi internal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh sifat-sifat atau disposisi. Pada atribusi eksternal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh situasi tempat orang itu berada.
b. Teori atribusi dari Kelley
Mengajukan model proses atribusi yang tidak lagi merujuk pada intensi. Menurut kelley untuk menjadikan tingkah laku konsisten, orang membuat atribusi personal ketika konsesus dan kekhususan, orang membuat atribusi stimulus. Jadi, atribusi dipengaruhi oleh faktor-faktor dari interaksi orang dengan situasi yang dihadapinya, bukan pada faktor intensional.
c. Dimensi lain dari atribusi Kausal
Ada penyebab internal yang stabil serta tidak berubah seiring ruang dan waktu, seperti sifat kepribadian dan temperamen. Di sisi lain ada penyebab internal yang berubah-ubah seperti motif, kesehatan, kelelahan, dan suasana hati.
d. Teori Kepribadian Tersirat ( Implicit Personality Theorist )
Dari pendekatan kognisi sosial, penjelasan tentang bagaimana kita mengenali dan mengerti orang lain dapat diperoleh dalam konsep tentang teori kepribadian tersirat yaitu sebuah jenis skema yang digunakan orang untuk membentuk kesan tentang orang lain dalam waktu cepat.

BAB II
KOMENTAR

A. Pengantar Psikologi Sosial
Psikologi Sosial adalah ilmu jiwa sosial memerlukan sedikit pengetahuan pendahuluan agar isinya lebih mudah dipahami. Hal-hal yang dipelajari dalam ilmu jiwa sosial, diantaranya:
1. hubungan antar manusia
2. kehidupan manusia dalam kelompok
3. sifat-sifat dan struktur kelompok
4. pembentukan norma sosial
5. peranan kelompok dalam perkembangan individu
6. kepemimpinan
7. dinamika kelompok
8. sikapsosial
9. perubahan sikap sosial
Hal-hal yang harus dipelajari tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Sehingga dapat dipelajari sesuai kaidah yang berlaku.
Ruang lingkup yang berada disekitar kita dapat dipelajari jika kita mengetahui batas dan ruang lingkup yang ada. Ada beberapa hubungan antara psikologi sosial dengan ilmu lain. Antaranya dengan sosiologi, antropologi, dan budaya.
Ada beberapa metode dalam psikologi sosial:
1. Metode eksperimen
Untuk menimbulkan dengan sengaja suatu gejala guna dapat menyelidiki berlangsungnya dengan persiapan yang cukup dan perhatian yang khusus. Adapun syarat-syaratnya adalah : menentukan dengan tepat waktu, mengikuti berlangsungnya gejala, dapat diulangi dalam keadaan yang sama, dan dapat mengubah dengan sengaja.
2. Metode survei
Metode mengumpulkan data seluas-luasnya mengenai kelompok yang akan diteliti. Biasanya dilakukan dengan wawancara, observasi, dan angket untuk mengumpulkan keterangan
3. Metode diagnostik-psikis
Dalam mengumpulkan keterangan digunakan skala-skala sikap,selain itu juga menggunakan tes kepribadian, yaitu tes-tes proyeksi yang dapat digunakan sarjana psikologi.

B. Persepsi Sosial mengenali dan Mengerti Orang Lain
Dengan mempelajari Persepsi dari seseorang kita dapat dengan mudah mengetahui karakter seseorang. Melalui komunikasi nonverbal, kita dapat berkomunikasi tanpa kata-kata, baik secara sengaja maupun tidak. Orang juga mampu menafsirkan tanda-tanda yang ditampilkan melalui beragam saluran komunikasi nonverbal secara cukup tepat dengan memanfaatkan berbagai tanda meski ada perbedaan pada beberapa tipe orang.
Atribusi merupakan tindakanpenafsiran ; apa yang “terberi”( kesan dari data indrawi ) dihubungkan kembali dengan sumber asalnya. Untuk menjadikan tingkah laku konsisten, orang membuat atribusi personal ketika konsensus dan keberbedaan rendah. Sedangkan pada saat konsensus dan keberbedaan tinggi, orang membuat atribusi stimulus.
Orang dapat menggunakan jalan pintas mental untuk memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain, yaitu dengan menghubungkan tingkah laku yang ditampilkan saat ini dengan sifat-sifat lain yang diketahui dimiliki orang lain. Persepsi sosial sering mengandung bias, diantaranya efek halo, negativitas, bias korespondensi, kesalahan atribusifundamental, in-group bias, dan efek kambing hitam.

By alvitarita

pengertian komunikasi

nie tugas komunikasi sosial makalah 2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupannya, manusia senantiasa terlibat dalam aktivitas komunikasi. Manusia mungkin akan mati, atau setidaknya sengsara manakala dikucilkan sama sekali sehingga ia tidak bisa melakukan komunikasi dengan dunia sekelilingnya. Oleh sebab itu komunikasi merupakan tindakan manusia yang lahir dengan penuh kesadaran, bahkan secara aktif manusia sengaja melahirkannya karena ada maksud atau tujuan tertentu.
Memang apabila manusia dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya seperti hewan, ia tidak akan hidup sendiri. Seekor anak ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan sendiri. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan alat-alat fisik yang cukup untuk hidup sendiri karena manusia adalah mahluk sosial.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Komunikasi ?
2. Apa Model – model Komunikasi ?
3. Apa Pengertian Komunikasi Sosial ?
4. Apa Perbedaan Komunikasi Sosial dengan Ilmu Komunikasi ?

C. Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengerti Pengertian Komunikasi.
2. Mengerti Model – model Komunikasi.
3. Mengerti Pengertian Komunikasi Sosial.
4. Mengerti Perbedaan Komunikasi Sosial dengan Ilmu Komunikasi.

D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui Pengertian Komunikasi.
2. Mengetahui Model – model Komunikasi.
3. Mengetahui Pengertian Komunikasi Sosial.
4. Mengetahui Perbedaan Komunikasi Sosial dengan Ilmu Komunikasi.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Komunikasi
1. Prof. Dr. Dedi Mulyana
Komunikasi adalah panasea universal ( komunikasi bukan obat ajaib untuk mengatasi semua persoalan masyarakat. Komunikasi sekedar alat untuk mencapai tujuan mulia ataupun tujuan jahat ). Keterampilan berkomunikasi adalah bakat, sifat bawaan, bukan diperoleh karena usaha atau pendidikan. Dalam penyampaian atau penerimaan informasi ada dua pihak yang terlibat yaitu :
a. Komunikator : Orang atau kelompok orang yang menyampaikan informasi atau pesan.
b. Komunikan : orang atau kelompok orang yang menerima pesan.
Komunikasi berperan penting bagi kehidupan manusia, karena manusia itu sendiri dikenal sebagai makhluk sosial. Setiap saat pasti manusia di dunia ini melakukan komunikasi, baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal.
2. William C. Rivers
Komunikasi adalah realita pokok kehidupan manusia ( a central fack of human existence ) .

3. Prof. Dr. H. Enceng Mulyana
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari suatu sumber kepada satu atau lebih penerima dengan maksud untuk mengubah perilaku dengan menggunakan kata – kata atau lambing yang kuat.

4. Carl I. Hovland
Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang ( komunikator ) menyampaikan rangsangan ( biasanya lambang – lambang verbal ) untuk mengubah perilaku orang lain ( komunikate ).

5. Rene Spitz
Komunikasi adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam kepribadian. Itulah mengapa kita selalu membutuhkan orang lain, bukan saja karena kita tidak dapat lepas dari lingkungan, tetapi kehadiran orang lain akan memperkuat kodrat berkomunikasi kita.

B. Model – model Komunikasi
1. Model Komunikasi Linear
Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication. Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel). Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model).
Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci:
a. sumber (source)
b. pesan (message) dan penerima (receiver).
Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalam proses komunikasi.

2. Model Komunikasi Interaksional
Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.
3. Model Komunikasi Transaksional
Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun 1970. Model ini menggaris bawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi. Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi. Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melalukan proses negosiasi makna.

C. Pengertian Komunikasi Sosial
Menurut Prof. Dr. Dedi Mulyana ( 2007 : 6 ), Komunikasi sosial adalah Kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Komunikasi sosial juga merupakan suatu proses pengaruh-mempengaruhi mencapai keterkaitan sosial yang dicita-citakan antar individu yang ada di masyarakat. Komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagian, terhindar dari tekanan dan ketegangan (lewat komunikasi yang bersifat menghibur) dan mempunyai hubungan dengan orang lain.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Komunikasi
Menurut saya, komunikasi adalah alat kita untuk berinteraksi dengan orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi yang bersifat verbal adalah komunikasi yang terucap dan tertulis.
Komunikasi yang bersifat nonverbal adalah komunikasi yang biasanya digunakan untuk melukiskan semua di luar kata – kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol – simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh – sungguh bersifat nonverbal.

B. Model – model Komunikasi
1. Model Komunikasi Linear
Menurut saya, komunikasi linear adalah komunikasi sebagai tindakan satu arah. Dedy Mulyana ( 2007 : 67 ), komunikasi satu arah adalah komunikasi yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari seseorang ( atau suatu lembaga ) kepada seseorang ( sekelompok orang ) lainnya, baik secara langsung ( tatap – muka ) ataupun melalui media, seperti surat kabar.

2. Model Komunikasi Interaksional
Menurut saya, komunikasi interaksional adalah komunikasi dua arah, yang melibatkan pengirim kepada penerima dan penerima kepada pengirim.
Dedy Mulyana ( 2007 : 72 ), komunikasi sebagai interaksi menyetarakan komunikasi dengan proses sebab – akibat atau aksi – reaksi, yang arahnya bergantian.

3. Model Komunikasi Transaksional
Menurut saya, komunikasi transaksional adalah komunikasi yang melakukan tindakan mengirim pesan dan menerima pesan, secara tidak langsung ini merupakan model komunikasi nonverbal.
Dedy Mulyana ( 2007 : 74 ), komunikasi ini adalah proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnyabersifat pribadi.

C. Pengertian Komunikasi Sosial
Menurut saya, komunikasi sosial adalah kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Orang yang tidak pernah komunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan “ tersesat “, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan social. Komunikasilah yang memungkinkan individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai panduan untuk menafsirkan situasi apa pun yang ia hadapi.

D. Analisis
Perbedaan Komunikasi Sosial dengan Ilmu Komunikasi :

a. Komunikasi sosial adalah Kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial.
b. Ilmu Komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan informasi atau pesan antara dua orang atau lebih dengan cara yang efektif, sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Dapatkah kita tidak berkomunikasi? itu sebuah kekeliruan besar ketika kita berpikir bahwa kita bisa hidup tanpa berkomunikasi. Kita tidak bisa hidup tanpa berkomunikasi. Kepada siapapun, apapun, kapanpun, dan bagaimanapun. Komunikasi menjadi semakin penting ketika kita dihadapkan pada sekitar kita. Komunikasi sosial adalah Kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Menurut Rene Spitz, komunikasi adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam kepribadian. Itulah mengapa kita selalu membutuhkan orang lain, bukan saja karena kita tidak dapat lepas dari lingkungan, tetapi kehadiran orang lain akan memperkuat kodrat berkomunikasi kita.
Melalui komunikasi dengan orang lain, kita dapat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual kita, dengan memupuk hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar kita. Komunikasi sosial menandakan bahwa komunikasi dilakukan untuk pemenuhan diri, untuk merasa terhibur, nyaman dan tenteram dengan diri sendiri dan juga orang lain.
Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar mengatakan bahwa fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain.

B. Saran

Dalam makalah ini pasti masih banyak kekurangan, untuk itu bagi anda yang ingin menggali lebih jauh tentang definisi komunikasi dan komunikasi sosial secara lebih jelas dan lebih luas, kiranya dapat membuat suatu kajian yang lebih baik lagi dari makalah ini dengan sumber inspirasi yang jauh lebih banyak dan lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Dedy Mulyana, Prof., Dr., M.A., Ph.D.. (2007). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar
Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyana Enceng, Prof., Dr., H., M.Pd..( 2008). Pengantar Komunikasi
Bandung
Wikipedia. “Model – model Komunikasi”. [Online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi#Model-model_komunikasi . Yang direkam pada 11 Oktober 2011 . [16 Oktober 2011].
Senaru. “ Komunikasi Dalam Lintas Sejarah “. [Online]. Tersedia : http://senaru.wordpress.com/2009/06/07/ilmu-komunikasi/ . Yang direkam pada 11 Oktober 2011 . [16 Oktober 2011]

By alvitarita

perkembangan remaja dan permasalahannya

nie tugas makalah 1 psikologi perkembangan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan adalah perubahan kearah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Perkembangan memiliki sifat holistik ( menyeluruh atau kompleks ) yaitu : terdiri dari berbagai aspek baik fisik ataupun psikis, terjadi dalam beberapa tahap ( saling berkesinambungan ), ada variasi individu dan memiliki prinsip keserasian dan keseimbangan.
Perkembangan Individu memiliki beberapa prinsip-prinsip yaitu : Never ending process ( perkembangan tidak akan pernah berhenti ), Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi ( aspek emosional, aspek disiplin, aspek agama dan aspek sosial ), Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu ( karena perkembangan individu dapat terjadi perubahan perilaku yang dapat dipertahankan atau bahkan ditinggalkan ).
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti dan setiap perkembangan memiliki tahapan-tahapan yaitu : tahap dikembangkan, tahap kandungan, tahap anak, tahap remaja, tahap dewasa, dan tahap lansia, ada juga yang menggunakan patokan umur yang dapat pula digolongkan dalam masa intraterin, masa bayi, masa anak sekolah, masa remaja dan masa adonelen yang lebih lanjut akan disebut dengan periode perkembangan.
. Dalam hal ini saya merasa tertarik untuk mengetahui karakteristik
perkembangan fase remaja, hal-hal apa saja yang mempengaruhi psikologi perkembangan pada fase remaja, serta masalah-masalah yang sering dialami oleh remaja.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa definisi masa remaja ?
2. Kapan masa perkembangan remaja ?
3. Apa faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja ?
4. Tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan oleh remaja ?
5. Permasalahan apa saja yang sering dilakukan oleh remaja ?

C. Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui definisi remaja.
2. Untuk mengetahui kapan masa perkembangan remaja.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja.
4. Untuk mengetahui tugas perkembangan remaja.
5. Untuk mengetahui permasalahan yang sering dialami oleh remaja.

D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi remaja yang sebenarnya.
2. Mengetahui kapan masa perkembangan remaja.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja.
4. Mengetahui tugas perkembangan remaja.
5. Mengetahui permasalahan yang dialami remaja.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Remaja Menurut Para Ahli

1. Menurut Stanley Hall ( Bapak Psikologi Remaja )
Masa remaja adalah masa kelahiran baru yang ditandai dengan gejala yang menonjol, yaitu: perubahan pada seluruh kepribadian dengan cepat, perubahan pada segi biologis, mulai berfungsinya kelenjar kelamin dan sikap sosial yang eksplosif dan bergelora.

2. Menurut Darajat Zakiyah
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).

3. Menurut Hurlock (1999)
Dalam bukunya menuliskan bahwa istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.

4. Menurut Jersild (dalam Hidayat, 1977)
Dalam bukunya “The Psychology of Adolescence” menyatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana pribadi manusia berubah dari kanak-kanak menuju ke arah pribadi orang dewasa.
5. Menurut Stone (dalam Hidayat, 1977)
Masa remaja adalah masa yang ditandai oleh adanya badai dan tekanan, yang dimulai adanya perubahan-perubahan biologis.

6. Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1999)
Masa remaja sebagai usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.

B. Masa Perkembangan Remaja
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun.
a. Masa Pra Pubertas ( 12 – 13 tahun ): peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Cirinya:
1) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.
2) Anak mulai bersikap kritis.
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat juga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik ( karena merasa tahu segalanya ), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, cenderung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu melaksanakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu adalah masalah yang sangat berat. Orang tua tidak boleh berpikir, “Ya ampun… itu kan hal kecil. Masa kamu tidak bisa menyelesaikannya ? Bodoh sekali kamu !”, dan sebagainya. Tetapi perhatian seolah-olah orang tua mengerti bahwa masalah itu berat sekali bagi remajanya, akan terekam dalam otak remaja itu bahwa orang tuanya adalah jalan keluar yang terbaik baginya. Ini akan mempermudah orang tua untuk mengarahkan perkembangan psikis anaknya.

b. Masa Pubertas ( 14-16 tahun ) : masa remaja awal.
Cirinya:
1) Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya.
2) Memperhatikan penampilan.
3) Sikapnya tidak menentu atau plin-plan.
4) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri atau gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sulit diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut, kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

c. Masa Akhir Pubertas ( 17-18 tahun ) :
peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen.
Cirinya:
1) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.

2. Periode Remaja Adolesen ( 19-21 tahun ) : Merupakan masa akhir remaja.
Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
a. Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
b. Mulai menyadari akan realitas
c. Sikapnya mulai jelas tentang hidup
d. Mulai nampak bakat dan minatnya
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.

C. Ciri – ciri Masa Remaja
Menurut Hurlock (1999) ciri-ciri masa remaja adalah sebagai berikut :
1. Masa remaja sebagai periode yang penting, karena perkembangan fisik, mental yang cepat dan penting dan adanya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai dan minat baru.
2. Masa remaja sebagai periode peralihan, adanya suatu perubahan sikap dan perilaku dari anak-anak menuju dewasa.
3. Masa remaja sebagai periode perubahan, karena ada 5 perubahan yang bersifat universal yaitu perubahan emosi, tubuh, minat dan pola perilaku, dan perubahan nilai.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah, karena pada masa kanak-kanak masalah-masalahnya sebagian besar diselesikan oleh guru dan orang tua sehingga kebanyakan remaja kurang berpengalaman dalam mengatasi masalah.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas, karena remaja berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya.
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena adanya anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi.
7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik, karena arena remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita.
8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa, karena remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan orang dewasa.
D. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
1. Keluarga
a. Fungsi keluarga
Menurut Samsyu Yusuf ( 2004 : 42 ), Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal dan eksternal, maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya, tetapi ada keluarga yang mengalami keretakan.
Keluarga yang fungsional ( normal ) yaitu keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah dijelaskan. Disamping itu, keluarga yan fungsional ditandai oleh karakteristik, yaitu :
1) Saling memperhatikan dan mencintai.
2) Bersikap terbuka dan jujur.
3) Orangtua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya, dan menghargai pendapatnya.
4) Ada “ sharing “ masalah atau pendapat diantara anggota keluarga.
5) Mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya.
6) Saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi.
7) Orangtua melindungi anak.

b. Pola Hubungan Orangtua dengan Anak
Menurut Samsyu Yusuf ( 2004 : 50 ), meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen – elemen struktur kepribadian remaja, yaitu :
Remaja memiliki “ego strength“ ( kematangan emosional dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan – harapan masyarakat )
1) Remaja memiliki “ superego “ ( berperilaku efektif yang dibimbing oleh kata hatinya ).
2) Remaja yang “ friendliness “ dan “ spontanetty “ berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.
3) Remaja yang bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas, berkaitan dengan keluarga yang otoriter.

c. Kelas Sosial dan Status Ekonomi
Menurut Pikunas ( 1976 : 72 ), mengemukakan kaitan antara kelas social dengan cara orangtua dalam mengatur anak, yaitu :
1) Kelas Bawah ( lower class ): cenderung lebih keras dalam “ toilet training” dan lebih sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.
2) Kelas Menengah ( middle class ): cenderung lebih memberikan pengawasan, dan perhatiannya sebagai orangtua.
3) Kelas Atas ( upper class ): cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan – kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya.

2. Lingkungan Sekolah
Menurut Harlock ( 1986 : 322 ), bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anakbaik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berpikir. Beberapa alasannya adalah :
a. Para siswa harus hadir di sekolah.
b. Sekolah memberikan pengaruh pada anak usia dini, seiring perkembanagannya.
c. Anak – anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah.
d. Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa yang meraih sukses
e. Sekolah memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya, dan kemampuannya secara realistik.

3. Kelompok Teman Sebaya
Aspek kepribadiaan remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya, adalah :
a. Social Cognition : kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuan ini berpengaruh kuat terhadap minatnya untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebayanya ( Sigelman & Shaffer, 1995: 372,376 ).
b. Konformitas : motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai – nilai, kebiasaan, kegemaran ( hobi ), atau budaya teman sebayanya. Konformitas kepada norma kelompok terjadi, apabila :
1) Norma tersebut secara jelas dinyatakan.
2) Individu berada di bawah pengawasan kelompok.
3) Kelompok memiliki fungsi yang kuat.
4) Kelompok memiliki sifat kohesif yang tinggi.
5) Kecil sekali dukungan terhadap penyimpangan dari norma.

E. Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Syamsu Yusuf ( 2004 : 72 ), tugas perkembangan remaja, yaitu :
1. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figure yang mempunyai otoritas.
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual atau kelompok.
4. Menemukan manusia model yang disajikan identitasnya.
5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
6. Memperkuat self – control ( kemampuan mengendalikan diri ) atas dasar skala nilai, prisip – prinsip atau falsafah hidup ( Weltanschauung ).

Dalam pembahasan tugas perkembangan remaja, Pikunas ( 1976 ), mengklasifikasikan ke dalam sembilan kategori, yaitu :
1. Kematangan emosional
2. Pemantapan minat – minat hetero seksual
3. Kematangan sosial
4. Emansipasi dari kontrol keluarga
5. Kematangan intelektual
6. Memilih pekerjaan
7. Menggunakan waktu senggang secara tepat
8. Memiliki filsafat hidup
9. Identifikasi diri

F. Permasalahan Remaja
1. Masalah Pribadi
a. Kurang motivasi untuk mempelajari agama
b. Kurang memahami agama sebagai pedoman hidup
c. Kurang menyadari bahwa setiap perbuatan manusia diawasi tuhan
d. Masih merasa malas melaksanakan salat
2. Masalah Sosial
a. Kurang menyenangi kritikan orang lain
b. Kurang memahami tatakrama ( etika ) pergaulan
c. Kurang berminat untuk berpartisipasi dalam kegiatan social
d. Merasa malu berteman dengan lawan jenis

3. Masalah Belajar
a. Kurang memiliki kebiasaan belajar yang baik
b. Kurang memahami cara belajar yang efektif
c. Kurang memahami cara mengatasi kesulitan belajar
d. Kurang memahami cara membaca buku yang efektif
4. Masalah Karir
a. Kurang mengetahui cara memilih proram studi
b. Kurang mempunyai motivasi untuk mencari informasi tentang karir
c. Masih bingung memilih pekerjaan
d. Merasa cemas untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus

BAB III
PEMBAHASAN TEORI

A. Pengertian Remaja
Menurut saya, remaja adalah tahapan bagi seseorang yang akan di alami oleh setiap manusia, yang akan mengalami perubahan drastis dari masa kanak-kanak. Perubahan itu meliputi perubahan fisik, perubahan mental, maupun perubahan psikis.
Masa perubahan remaja perempuan lebih cepat dari pada laki – laki. Pada umumnya perubahan remaja perempuan mengalami menstruasi, sedangkan pada laki – laki mengalami mimpi basah. Biasanya remaja akan mengalami kebingungan dalam menerima semua perubahan yang terjadi pada diri mereka.. Orangtua harus memberikan pengertian kepada remaja yang mengalami perubahan tersebut, karena semua itu tahapan yang harus dilewati oleh seorang remaja perempuan ataupun laki – laki.
B. Masa Perkembangan Remaja
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun.
a. Masa Pra Pubertas ( 12 – 13 tahun ): peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Ciri – cirinya :
1) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.
2) Anak mulai bersikap kritis.
b. Masa Pubertas ( 14-16 tahun ) : masa remaja awal.
Ciri – cirinya :
Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya.
1) Memperhatikan penampilan.
2) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
c. Masa Akhir Pubertas ( 17-18 tahun ) :
Ciri – cirinya :
1) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
2. Periode Remaja Adolesen ( 19-21 tahun ) : Merupakan masa akhir remaja.
Ciri – cirinya :
a. Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis.
b. Mulai menyadari akan realitas.
C. Tugas Perkembangan Remaja
1. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif.
2. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua.
3. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin.
4. Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri.
5. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma.

D. Permasalahan Perkembangan Remaja
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian tersebut diatas, dengan ini saya kemukakan beberapa hal kesimpulan, sebagai berikut:
1. Remaja adalah masa kelahiran baru bagi setiap manusia, dari masa peralihan kanak – kanak.
2. Ada empat tahapan perkembangan remaja yang harus dilewati bagi setiap manusia, yang tiap tahapnya akan mengalami perubahan yang drastis.
3. Masa remaja adalah masa dimana orang mencari identitas diri, orang mengalami berbagai masalah baru, dan menimbulkan ketakutan.
4. Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah keluarga, lingkungan sekolah, dan teman sebaya.
5. Masa remaja banyak mengalami permasalahan, karena seorang remaja sedang mencari identitas diri.

B. Saran
Masa perkembangan remaja merupakan masa seseorang dalam keadaan yang tidak stabil, karena sedang mencari identitas diri.
Oleh karena itu, orangtua sebagai penuntun bagi remaja harus melakukan hal – hal seperti ini :
1. Membimbing remaja saat mengalami perubahan perkembangan yang dialami.
2. Lebih pengertian dengan keadaan remaja karena emosi remaja tidak stabil.
3. Jangan memberikan efek orangtua yang tidak mengerti keadaan remaja, karena itu akan memberikan efek negatif kepada remaja itu.
4. Lebih terbuka saat mereka menceritakan sesuatu.

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf Syamsu ( 2004 ) Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Johnson David W. ( 1970 ) The Social Psychologi of Education. New York: Holt Rinehart & Wiston Inc.
Hurlock Elizabeth ( 1950 ) Child Development. New York: Mc Graw Hill Book Company. Inc.
Pikunas Lustin ( 1976 ) Human Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd.
Sigelman carol K. & Shaffer David R. ( 1995 ) Life Span Human Development. California: Brooks/Cole Publishing Company.
Yusuf Syamsu LN. ( 1998 ) Model Bimbingan dan Konseling dengan Pendekatan Ekologis. Disertasi. Bandung: Pascasarjana IKIP Bandung.
Hartinah Siti. ( 2008 ) Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Refika Aditama
Susanto Eko. ( 2008 ). “PSIKOLOGI PERKEMBANGAN”. [Online]. Tersedia : eko13.wordpress.com/2008/04/12/psikologi-perkembangan/. Yang direkam pada 11 Oktober 2011. [14 Oktober 2011].
Momogi. ( 2010 ). “ PERMASALAHAN REMAJA “. [Online]. Tersedia : http://mo2gi.student.umm.ac.id/2010/02/04/permasalahan-remaja/. Yang direkam pada 11 Oktober 2011. [ 14 Oktober 2011].

Masbow. ( 2009 ). “ PSIKOLOGI REMAJA DAN PERMASALAHANNYA “. [Online]. Tersedia : http://www.masbow.com/2009/08/psikologi-remaja-dan-permasalahannya.html. Yang direkam pada 11 Oktober 2011. [ 15 Oktober 2011 ]
Panji Aroma Dani ( 2008 ). “ PSIKOLOGI PERKEMBANGAN REMAJA “. [Online]. Tersedia : http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com/2008/03/psikologi-perkembangan-remaja_27.html. Yang direkam pada 11 Oktober 2011. [ 15 Oktober 2011 ]

By alvitarita

tips hidup sehat

Tips Hidup Sehat.. Ikutilah tips berikut ini untuk hidup sehat dan memiliki kualitas hidup yang baik, jalani hidup sehat mulai sekarang. Kesehatan adalah investasi yang sangat berharga. Karena itu, jadikanlah hidup sehat optimal sebagai kebiasaan Anda sehari-hari. Bagaimana Caranya ! Ikuti tips berikut ini : 1. Cukupilah Kebutuhan Gizi Anda 2. Hindarilah LemaK Berbahaya 3. Janganlah pernah Lupa Sarapan 4. Makan Sayur dan Buah yang cukup 5. Minum Air Minimal 8 Gelas Sehari 6. Pertahankan Berat Badan yang Ideal 7. Olah raga yang teratur 8. Cukup Istirahat 9. Hindarilah Rokok dan Minuman Beralkohol 10. Selalu Berpikir Positif 11. Luangkanlah Waktu Untuk Diri Sendiri 12. Perhatikanlah Kebersihan 13. Periksakanlah Kesehatan Anda Secara Teratur 14. Untuk Sumber Makanan, Minuman dan Suplemen pilihlah Bahan Alami 15. Mengkonsumsi Suplemen Sesuai Kondisi dan Kebutuhan Tubuh.

By alvitarita

my school

sekolahku skrang sudah RSBI..qw senang sekolah di SMAN BANYUMAS..
qw skrang klas XI IPA 5..
nak”a asyik,,

By alvitarita

Tentang aku

aku adalah anak pertama dari dua bersaudara..
sekarang aku sekolah di sma negeri banyumas,kelas XI IPA 5..
adikku sekolah di SMPN 3 KLAMPOK..

By alvitarita