PERKEMBANGAN REMAJA DAN PERANANNYA DALAM MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan adalah perubahan kearah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Perkembangan memiliki sifat holistik ( menyeluruh atau kompleks ) yaitu : terdiri dari berbagai aspek baik fisik ataupun psikis, terjadi dalam beberapa tahap ( saling berkesinambungan ), ada variasi individu dan memiliki prinsip keserasian dan keseimbangan.
Perkembangan Individu memiliki beberapa prinsip-prinsip yaitu : Never ending process ( perkembangan tidak akan pernah berhenti ), Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi ( aspek emosional, aspek disiplin, aspek agama dan aspek sosial ), Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu ( karena perkembangan individu dapat terjadi perubahan perilaku yang dapat dipertahankan atau bahkan ditinggalkan ).
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti dan setiap perkembangan memiliki tahapan-tahapan yaitu : tahap dikembangkan, tahap kandungan, tahap anak, tahap remaja, tahap dewasa, dan tahap lansia, ada juga yang menggunakan patokan umur yang dapat pula digolongkan dalam masa intraterin, masa bayi, masa anak sekolah, masa remaja dan masa adonelen yang lebih lanjut akan disebut dengan periode perkembangan.
. Dalam hal ini saya merasa tertarik untuk mengetahui perkembangan remaja serta peranan remaja dalam masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa definisi masa remaja ?
2. Kapan masa perkembangan remaja ?
3. Apa faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja ?
4. Tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan oleh remaja ?

5. Apa peranan remaja dalam masyarakat ?
6. Permasalahan apa saja yang sering dilakukan oleh remaja ?
7. Bagaimana perkembangan kesadaran beragama seorang remaja ?

C. Tujuan
Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui definisi remaja.
2. Untuk mengetahui kapan masa perkembangan remaja.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja.
4. Untuk mengetahui tugas perkembangan remaja
5. Untuk mengetahui peranan remaja dalam masyarakat.
6. Untuk mengetahui permasalahan yang sering dialami oleh remaja.
7. Untuk mengetahui perkembangan kesadaran beragama seorang remaja

D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi remaja yang sebenarnya.
2. Mengetahui kapan masa perkembangan remaja.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja.
4. Mengetahui tugas perkembangan remaja
5. Mengetahui peranan remaja dalam masyarakat.
6. Mengetahui permasalahan yang dialami remaja.
7. Mengetahui perkembangan kesadaran beragama seorang remaja

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Remaja Menurut Para Ahli
1. Menurut Stanley Hall ( Bapak Psikologi Remaja )
Masa remaja adalah masa kelahiran baru yang ditandai dengan gejala yang menonjol, yaitu: perubahan pada seluruh kepribadian dengan cepat, perubahan pada segi biologis, mulai berfungsinya kelenjar kelamin dan sikap sosial yang eksplosif dan bergelora.

2. Menurut Darajat Zakiyah
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).

3. Menurut Hurlock (1999)
Dalam bukunya menuliskan bahwa istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.

4. Menurut Jersild (dalam Hidayat, 1977)
Dalam bukunya “The Psychology of Adolescence” menyatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana pribadi manusia berubah dari kanak-kanak menuju ke arah pribadi orang dewasa.

5. Menurut Stone (dalam Hidayat, 1977)
Masa remaja adalah masa yang ditandai oleh adanya badai dan tekanan, yang dimulai adanya perubahan-perubahan biologis.

6. Menurut Piaget (dalam Hurlock, 1999)
Masa remaja sebagai usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.

B. Masa Perkembangan Remaja
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun.
a. Masa Pra Pubertas ( 12 – 13 tahun ): peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Cirinya:
1) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.
2) Anak mulai bersikap kritis.
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat juga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik ( karena merasa tahu segalanya ), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, cenderung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu melaksanakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu adalah masalah yang sangat berat. Orang tua tidak boleh berpikir, “Ya ampun… itu kan hal kecil. Masa kamu tidak bisa menyelesaikannya ? Bodoh sekali kamu !”, dan sebagainya. Tetapi perhatian seolah-olah orang tua mengerti bahwa masalah itu berat sekali bagi remajanya, akan terekam dalam otak remaja itu bahwa orang tuanya adalah jalan keluar yang terbaik baginya. Ini akan mempermudah orang tua untuk mengarahkan perkembangan psikis anaknya.

b. Masa Pubertas ( 14-16 tahun ) : masa remaja awal.
Cirinya:
1) Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya.
2) Memperhatikan penampilan.
3) Sikapnya tidak menentu atau plin-plan.
4) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri atau gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sulit diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut, kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

c. Masa Akhir Pubertas ( 17-18 tahun ) :
peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen.
Cirinya:
1) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.

2. Periode Remaja Adolesen ( 19-21 tahun ) : Merupakan masa akhir remaja.
Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
a. Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
b. Mulai menyadari akan realitas
c. Sikapnya mulai jelas tentang hidup
d. Mulai nampak bakat dan minatnya
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.
C. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
1. Keluarga
a. Fungsi keluarga
Menurut Samsyu Yusuf ( 2004 : 42 ), Seiring perjalanan hidupnya yang diwarnai faktor internal dan eksternal, maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya, tetapi ada keluarga yang mengalami keretakan.
Keluarga yang fungsional ( normal ) yaitu keluarga yang telah mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana yang sudah dijelaskan. Disamping itu, keluarga yan fungsional ditandai oleh karakteristik, yaitu :
1) Saling memperhatikan dan mencintai.
2) Bersikap terbuka dan jujur.
3) Orangtua mau mendengarkan anak, menerima perasaannya, dan menghargai pendapatnya.
4) Ada “ sharing “ masalah atau pendapat diantara anggota keluarga.
5) Mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya.
6) Saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi.
7) Orangtua melindungi anak.

b. Pola Hubungan Orangtua dengan Anak
Menurut Samsyu Yusuf ( 2004 : 50 ), meneliti hubungan antara karakteristik emosional dan pola perlakuan keluarga dengan elemen – elemen struktur kepribadian remaja, yaitu :
Remaja memiliki “ego strength“ ( kematangan emosional dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan harapan – harapan masyarakat )
1) Remaja memiliki “ superego “ ( berperilaku efektif yang dibimbing oleh kata hatinya ).
2) Remaja yang “ friendliness “ dan “ spontanetty “ berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.
3) Remaja yang bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas, berkaitan dengan keluarga yang otoriter.

c. Kelas Sosial dan Status Ekonomi
Menurut Pikunas ( 1976 : 72 ), mengemukakan kaitan antara kelas social dengan cara orangtua dalam mengatur anak, yaitu :
1) Kelas Bawah ( lower class ): cenderung lebih keras dalam “ toilet training” dan lebih sering menggunakan hukuman fisik, dibandingkan dengan kelas menengah.
2) Kelas Menengah ( middle class ): cenderung lebih memberikan pengawasan, dan perhatiannya sebagai orangtua.
3) Kelas Atas ( upper class ): cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan – kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya.

2. Lingkungan Sekolah
Menurut Harlock ( 1986 : 322 ), bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anakbaik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berpikir. Beberapa alasannya adalah :
a. Para siswa harus hadir di sekolah.
b. Sekolah memberikan pengaruh pada anak usia dini, seiring perkembanagannya.
c. Anak – anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah.
d. Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa yang meraih sukses
e. Sekolah memberikan kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya, dan kemampuannya secara realistik.

3. Kelompok Teman Sebaya
Aspek kepribadiaan remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya, adalah :
a. Social Cognition : kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuan ini berpengaruh kuat terhadap minatnya untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebayanya ( Sigelman & Shaffer, 1995: 372,376 ).
b. Konformitas : motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai – nilai, kebiasaan, kegemaran ( hobi ), atau budaya teman sebayanya. Konformitas kepada norma kelompok terjadi, apabila :
1) Norma tersebut secara jelas dinyatakan.
2) Individu berada di bawah pengawasan kelompok.
3) Kelompok memiliki fungsi yang kuat.
4) Kelompok memiliki sifat kohesif yang tinggi.
5) Kecil sekali dukungan terhadap penyimpangan dari norma.

D. Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Syamsu Yusuf ( 2004 : 72 ), tugas perkembangan remaja, yaitu :
1. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figure yang mempunyai otoritas.
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual atau kelompok.
4. Menemukan manusia model yang disajikan identitasnya.
5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
6. Memperkuat self – control ( kemampuan mengendalikan diri ) atas dasar skala nilai, prisip – prinsip atau falsafah hidup ( Weltanschauung ).

Dalam pembahasan tugas perkembangan remaja, Pikunas ( 1976 ), mengklasifikasikan ke dalam sembilan kategori, yaitu :
1. Kematangan emosional
2. Pemantapan minat – minat hetero seksual
3. Kematangan sosial
4. Emansipasi dari kontrol keluarga
5. Kematangan intelektual
6. Memilih pekerjaan
7. Menggunakan waktu senggang secara tepat
8. Memiliki filsafat hidup
9. Identifikasi diri

E. Peranan Remaja Dalam Masyarakat
Pemuda atau remaja merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekuasaan.
Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.
Peranan lebih lanjut tentang peran pemuda dalam masyarakat adalah sebagai penerus generasi golongan tua yang berperan penting di dalam lingkungan masyarakat. Berorganisasi dalam berbagai rangkaian kegiatan sosialisasi, maupun yang lainnya. Para generasi penerus ini juga berperan penting dalam kondisi demokrasi dalam masyarakat sekitar. Contoh, dalam rangka pemilihan ketua RT atau ketua RW. Seluruh masyarakat sekitar ikut berpartisipasi untuk menyalurkan suaranya, termasuk para generasi penerus tersebut. Dan selanjutnya, bisa bersosialisasi dan bergabung dengan kelompok golongan tua, dalam hal bermasyarakat, maupun berorganisasi. Mereka juga bisa mengadakan sosialisasi atar sesamanya, seperti contoh berorganisasi membentuk grup olahraga, seperti basket. Dan secara otomatis, mereka akan berbagi, dan bersosialisasi antar sesamanya. Dan oleh sebab itu, akan terjadi hubungan kontak yang baik antar sesama, mengenal sesama, dan saling membantu jika ada yang mengalami kesulitan dalam segala hal.
F. Permasalahan Remaja
1. Masalah Pribadi
a. Kurang motivasi untuk mempelajari agama
b. Kurang memahami agama sebagai pedoman hidup
c. Kurang menyadari bahwa setiap perbuatan manusia diawasi tuhan
d. Masih merasa malas melaksanakan salat
2. Masalah Sosial
a. Kurang menyenangi kritikan orang lain
b. Kurang memahami tatakrama ( etika ) pergaulan
c. Kurang berminat untuk berpartisipasi dalam kegiatan social
d. Merasa malu berteman dengan lawan jenis
3. Masalah Belajar
a. Kurang memiliki kebiasaan belajar yang baik
b. Kurang memahami cara belajar yang efektif
c. Kurang memahami cara mengatasi kesulitan belajar
d. Kurang memahami cara membaca buku yang efektif
4. Masalah Karir
a. Kurang mengetahui cara memilih proram studi
b. Kurang mempunyai motivasi untuk mencari informasi tentang karir
c. Masih bingung memilih pekerjaan
d. Merasa cemas untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus

G. Perkembangan Kesadaran Beragama Remaja
Menurut syamsu yusuf ( 2004 ) , Apakah remaja memikirkan tuhan sama dengan cara berpikir anak ? Apakah perkembangan intelektual mempengaruhi perkembangannya terhadap Tuhan dan agama ? Karena pandangan terhadap tuhan atau agama sangat dipengaruhi oleh perkembangan berfikir, maka pemikiran remaja tentang tuhan berbeda dengan pemikiran anak
Kemampuan berpikir abstrak remaja memungkinkannya untuk dapat mentransformasikan keyakinan beragamanya. Dia dapat mengapresiasi kualitas keabstrakan tuhan sebagai yang maha adil, maha kasih saying. Berkembangnya kesadaran atau keyakinan beragama, seiring dengan mulainya remaja menanyakan atau mempermasalahkan sumber – sumber otoritas dalam kehidupan, seperti pertanyaan “ Apakah Tuhan Maha Kuasa, mengapa masih terjadi penderitaan dan kejahatan di dunia ini ? “
Untuk memperoleh kejelasan tentang kesadaran beragama remaja ini, dapat disimak dalam uraian berikut.
1. Masa Remaja Awal ( sekitar usia 13 – 16 tahun )
Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada tuhan kadang – kadang sangat kuat, akan tetapi kadang – kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang – kadang rajin dan kadang – kadang malas. Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic ( was – was ) sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual ( seperti ibadah salat ) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
Kegoncangan dalam keagamaan ini mungin muncul, karena disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya organ seks, yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, di sisi lain ia tahu bahwa perbuatannya dilarang oleh agama. Kondisi ini menimbulkan konflik pada diri remaja. Faktor internal lainnya adalah bersifat psikologis, yaitu sikap independen, keinginan untuk bebas, tidak mau terikat oleh norma – norma keluarga ( orang tua ). Apabila orangtua atau guru – guru kurang memahami dan mendekatinya secara baik, bahkan dengan sikap keras, maka sikap itu akan muncul dalam bentuk tigkah laku negative ( negatifisme ), seperti membandel, oposisi, menentang atau menyendiri, dan acuh tak acuh.
Sedangkan berkaitan dengan perkembangan budaya dalam masyarakat, yang tidak jarang bertentangan dengan nilai – nilai agama, seperti beredarnya film – film dan foto – foto yang tidak senonoh ( porno ), minuman keras, ganja atau obat – obatan terlarang. Hal ini semua mempunyai daya tarik yang sangat kuat bagi remaja untuk mencobanya.
Di samping itu, mungkin remaja melihat bahwa tidak sedikit orang dewasa atau masyarakat sekitarnya yang gaya hidupnya kurang mempedulikan agama, bersifat munafik, tidak jujur dan perilaku amoral lainnya.
Apabila remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orangtua yang kurang memberikan kasih sayang dan berteman dengan kelompok sebaya yang kurang menghargau nilai – nilai agama, maka kondisi di atas akan menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila, seperti pergaulan bebas ( free sex ), minum – minuman keras, mengisap ganja dan menjadi trouble maker ( pengganggu ketertiban atau pembuat keonaran ) dalam masyarakat.

2. Masa Remaja Akhir ( 17 – 21 tahun )
Secara psikologis, masa ini merupakan permulaan masa dewasa, emosinya mulai stabil dan pemikirannya mulai matang ( kritis ). Dalam kehidupan beragama, remaja sudah mulai melibatkan diri ke dalam kegiatan – kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya di antaranya ada yang shalih dan ada yang tidak shalih. Pengertian ini memungkinkan dia untuk tidak terpengaruh oleh orang – orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama atau perilakunya bertentangan dengan nilai agama.
Untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana kesadaran beragama remaja, Nancy J. Cobb ( 1992 : 251 ) mengemukakan hasil penelitian di Amerika Serikat terhadap para siswa SLTA ( yang dikutip hanya tahun 1984 dan 1985 ) sebagai berikut.

Kesadaran Beragama 1984 1985
A. Frekuensi beribadah
1. Setiap Minggu
2. 1 – 2 kali / minggu
3. Kadang – kadang
4. Tidak pernah
B. Pentingnya Beragama
1. Sangat Penting
2. Penting
3. Kurang Penting
4. Tidak Penting
37,7
16,2
35,8
10,2

29,7
32,6
28,7
11,0

35.3
16,6
37,0
11,1

27,3
32,4
26,6
12,7
Tabel di atas menunjukkan bahwa persentase remaja USA ( minimal sampai tahun 1985 ) yang menganggap pentingnya beragama masih cukup, yaitu sekitar 59,7 % ( 60 % ).
Yang menjadi masalah bagi kita adalah bagaimana kesadaran beragama remaja Indonesia ? untuk sedikit menguak tentang persoalan ini, saya telah melakukan penelitian tentang tugas – tugas perkembangan terhadap para siswa SLTA ( SMK ) di Jawa Barat yang Respondennya berjumlah 652 orang pada tahun 1996 / 1997. Salah satu tugas perkembangan yang diukurnya adalah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang hasilnya adalah sebagai berikut
a. Mengembangkan Pemahaman Agama. Hasil penelitian menunjukan bahwa hamper setengahnya para siswa : (1) merasa malas untuk mendengarkan ceramah – ceramah keagamaan. (2) kurang berminat untuk mengikuti kegiatan keagamaan, (3) kurang senang membaca buku – buku agama, dan (4) kurang tertarik untuk mengikuti diskusi keagamaan. Temuan ini menggambarkan bahwa belum semua siswa menaruh minat dan perhatian untuk memperluas wawasan atau pemahaman keagamaan. Fenomena ini menunjukkan pula tentang lemahnya komitmen mereka untuk menempatkan upaya pemahaman keagamaan sebagai suatu hal yang penting dalam kehidupannya.
b. Meyakini agama sebagai pedoman hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hamper semua siswa meyakini agama sebagai pedoman hidup yang akan membawa kepada kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak
c. Meyakini bahwa setiap perbuatan manusia tidak lepas dari pengawasan tuhan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar siswa meyakini akan pengawasan tuhan terhadap semua perilaku dirinya. kesadaran ini merupakan sikap rohaniah yang memungkinkan seseorang mampu mengendalikan dirinya. kesadaran ini merupakan sikap rohaniah yang memungkinkan seseorang mampu mengendalikan dirinya dari perbuatan yang tidak baik. Dalam kaidah agama, kesadaran akan pengawasan tuhan itu di sebut ihsan, cenderung akan mampu mengontrol tingkah lakunya, sehingga dia akan terhindar dari perbuatan nista. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sikap ihsan cenderung akan bersifat impulsive atau berperilaku atas dasar hawa nafsunya. Yang perlu mendapat perhatian dalam aspek perkembangan ini adalah bahwa ternyata masih ada sebagian siswa yang belum memiliki keyakinan bahwa setiap perbuatan manusia itu diawasi oleh tuhan. Fenomena ini menuntut suatu pemberian layanan khusus bagi para siswa tersebut agar mereka dapat mengembangkan keyakinannya seperti yang diharapkan
d. Meyakini kehidupan akhirat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hamper semua siswa meyakini akan adanya hari akhirat. Mereka meyakini bahwa amal perbuatannya mendapat pembalasan dari tuhan. Di sisi lain ( meskipun jumlahnya sedikit ), masih ada siswa yang belum meyakini adanya hari akhir tersebut. Tampaknya, keyakinan akan adanya pembalasan amal di akhirat, berkaitan erat dengan keyakinan akan pengawasan tuhan terhadap semua perbuatan manusia di dunia ini. Manusia, dalam hal ini siswa SMK yang meyakini bahwa semua perbuatan di awasi tuhan, mereka cenderung berhati – hati dalam berperilaku karena merasa takut akan pembalasan dari tuhan di akhirat kelak. Tetapi bagi mereka yang tidak meyakini adanya pembalasan perbuatan tersebut cenderung kurang memperhatikan norma – norma agama dalam berperilaku

BAB III
PEMBAHASAN TEORI

A. Pengertian Remaja
Menurut saya, remaja adalah tahapan bagi seseorang yang akan di alami oleh setiap manusia, yang akan mengalami perubahan drastis dari masa kanak-kanak. Perubahan itu meliputi perubahan fisik, perubahan mental, maupun perubahan psikis.
Masa perubahan remaja perempuan lebih cepat dari pada laki – laki. Pada umumnya perubahan remaja perempuan mengalami menstruasi, sedangkan pada laki – laki mengalami mimpi basah. Biasanya remaja akan mengalami kebingungan dalam menerima semua perubahan yang terjadi pada diri mereka.. Orangtua harus memberikan pengertian kepada remaja yang mengalami perubahan tersebut, karena semua itu tahapan yang harus dilewati oleh seorang remaja perempuan ataupun laki – laki.

B. Masa Perkembangan Remaja
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun.
a. Masa Pra Pubertas ( 12 – 13 tahun ): peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Ciri – cirinya :
1) Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi.
2) Anak mulai bersikap kritis.
b. Masa Pubertas ( 14-16 tahun ) : masa remaja awal.
Ciri – cirinya :
Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya.
1) Memperhatikan penampilan.
2) Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.
c. Masa Akhir Pubertas ( 17-18 tahun ) :
Ciri – cirinya :
1) Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya.
2) Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria.
2. Periode Remaja Adolesen ( 19-21 tahun ) : Merupakan masa akhir remaja.
Ciri – cirinya :
a. Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis.
b. Mulai menyadari akan realitas.

C. Tugas Perkembangan Remaja
1. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif.
2. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua.
3. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin.
4. Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri.
5. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma.
D. Peranan Remaja Dalam Masyarakat
Remaja merupakan sosok yang diharapkan akan meneruskan generasi selanjutnya. Ibaratnya mereka adalah daun – daun hijau yang tumbuh dalam pohon yang menggantikan daun kering yang jatuh ke tanah. Mereka sangat berperan dalam kemajuan suatu bangsa. Sampai presiden pertama kita Ir. Soekarno saja berkata “ Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia “.
Dari kata – kata tersebut sudah membuktikan bahwa peranan remaja sangat berperan dalam kemajuan suatu bangsa. Tetapi, saat ini mereka lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian remaja sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini.
Peranan remaja dalam sosialisi bermasyrakat sungguh menurun dratis, dulu bisanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah remaja sekitar. Remaja sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu.
Kini remaja di negara kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, lebih suka aktif di mailing list, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara.
Seharusnya kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran remaja sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.
Dengan penuh harapan semoga pemuda-pemudi dan generasi penerus harapan bangsa dapat menjelma menjadi sukarno-sukarno masa depan dengan samangat juang yang tinggi. Sebagai motor perjuangan bangsa.

E. Permasalahan Perkembangan Remaja
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian tersebut diatas, dengan ini saya kemukakan beberapa hal kesimpulan, sebagai berikut:
1. Remaja adalah masa kelahiran baru bagi setiap manusia, dari masa peralihan kanak – kanak.
2. Ada empat tahapan perkembangan remaja yang harus dilewati bagi setiap manusia, yang tiap tahapnya akan mengalami perubahan yang drastis.
3. Masa remaja adalah masa dimana orang mencari identitas diri, orang mengalami berbagai masalah baru, dan menimbulkan ketakutan.
4. Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah keluarga, lingkungan sekolah, dan teman sebaya.
5. Masa remaja banyak mengalami permasalahan, karena seorang remaja sedang mencari identitas diri.

B. Saran
Masa perkembangan remaja merupakan masa seseorang dalam keadaan yang tidak stabil, karena sedang mencari identitas diri.
Oleh karena itu, orangtua sebagai penuntun bagi remaja harus melakukan hal – hal seperti ini :
1. Membimbing remaja saat mengalami perubahan perkembangan yang dialami.
2. Lebih pengertian dengan keadaan remaja karena emosi remaja tidak stabil.
3. Jangan memberikan efek orangtua yang tidak mengerti keadaan remaja, karena itu akan memberikan efek negatif kepada remaja itu.
4. Lebih terbuka saat mereka menceritakan sesuatu.
5. Memberikan pengarahan tentang keagamaan, agar mereka tidak terjebaj ke jalan yang salah

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf Syamsu ( 2004 ) Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Johnson David W. ( 1970 ) The Social Psychologi of Education. New York: Holt Rinehart & Wiston Inc.
Hurlock Elizabeth ( 1950 ) Child Development. New York: Mc Graw Hill Book Company. Inc.
Pikunas Lustin ( 1976 ) Human Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd.
Sigelman carol K. & Shaffer David R. ( 1995 ) Life Span Human Development. California: Brooks/Cole Publishing Company.
Yusuf Syamsu LN. ( 1998 ) Model Bimbingan dan Konseling dengan Pendekatan Ekologis. Disertasi. Bandung: Pascasarjana IKIP Bandung.
Hartinah Siti. ( 2008 ) Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Refika Aditama
Susanto Eko. ( 2008 ). “PSIKOLOGI PERKEMBANGAN”. [Online]. Tersedia : eko13.wordpress.com/2008/04/12/psikologi-perkembangan/. Yang direkam pada 25 November 2011. [28 November 2011].
Momogi. ( 2010 ). “ PERMASALAHAN REMAJA “. [Online]. Tersedia : http://mo2gi.student.umm.ac.id/2010/02/04/permasalahan-remaja/. Yang direkam pada 25 November 2011. [28 November 2011].
Cahaya Muslim. ( 2007 ). “ REMAJA DAN LINGKUNGAN“. [Online]. Tersedia : http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/remaja-dan-lingkungan.html\. Yang direkam pada 25 November 2011. [28 November 2011].
Kompasiana ( 2010 ). “ PERANAN REMAJA DALAM SOSIALISASI BERMASYARAKAT “. [Online]. Tersedia : http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/23/peranan-pemuda-dalam-sosialisasi-bermasyarakat/. Yang direkam pada 11 Oktober 2011. [ 15 Oktober 2011 ]

By alvitarita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s